
Menurutnya, dalam konteks Ramadhan, masyarakat sudah pasti mengisinya dengan keutamaan-keutamaan yang disebut dengan wujud-wujud peradaban sebagai bagian dari kebudayaan.
Maka dari itu, diperlukan beberapa langkah positif dalam bentuk wujud peradaban tersebut yang menyertai puasa di bulan Ramadhan, sehingga nuansanya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, lebih berkualitas.
Pertama, intensitas kajian keagamaan (Keislaman). Tampilan ulama dengan segala kompetensi keilmuannya tentu memberikan sentuhan tersendiri apalagi disertai dengan ketulusan hati dan pengorbanan tinggi.
Komprehensifitas Islam sebagai agama samawi (Divine-Religion) dengan nilai dasar; akidah, syari’ah dan akhlak dengan segala pengetahuan dan kelengkapan keilmuannya mesti dikaji, terlebih di bulan Ramadhan.
Ia menyebutkan jika kultum atau ceramah singkat sebelum tarawih tidak cukup untuk meng-cover keseluruhan ajaran Islam.
“Jangankan itu, mengkaji Al-Qur’an saja sudah pasti tidak cukup waktu karena keluasan kandungan kitab suci tersebut. Maka tidak hanya materi kitab suci yang dibekalkan kepada setiap muslim, melainkan juga metodologi kajian yang tepat,” paparnya.