Dibalik Sisa-sisa Kejayaan: Ketika Butiran Timah Beradu dengan Isi Perut

    Caption: Yani Basaroni.

    Oleh: Yani Basaroni S.IP (Kades Perlang)

    Lubuk besar – Bangka Belitung telah lama dikenal sebagai tulang punggung timah dunia. Namun, jika kita masuk lebih dalam ke jantung Kecamatan Lubuk Besar, tepatnya di Desa Perlang, narasi kemegahan itu luruh menjadi butiran peluh. Di sana, kejayaan bukan lagi soal ekspor ribuan ton, melainkan soal apakah “dapur bisa ngebul” esok pagi.

    Kepala Desa Perlang, Yani Basaroni, atau yang akrab disapa Ronie Arabel, menyuarakan sebuah kejujuran yang menggetarkan: masyarakatnya kini menyambung nyawa dari sisa-sisa. Mengais rejeki di lubang-lubang lama dengan alat seadanya—TI Sebu dan TI Upin-Ipin—adalah bentuk pertahanan diri terakhir di tengah ketidakpastian ekonomi.

    Ekonomi “Reman Kue” dan Kemanusiaan yang Tercecer

    Ada sebuah potret yang barangkali tidak akan pernah masuk dalam laporan tahunan perusahaan tambang besar, namun menjadi pemandangan harian di Perlang. Ialah rombongan ibu-ibu penjual kue yang mendatangi lokasi tambang rakyat.

    Mereka tidak membawa nota tagihan, melainkan baki berisi panganan sederhana. Kue-kue itu ditukar dengan “reman” atau sisa timah pemberian para penambang.

    Di titik ini, timah bukan lagi komoditas bursa London; timah telah menjelma menjadi alat tukar sosial, menjadi penyambung nafas bagi para janda dan anak-anak yang setia menanti dengan mangkok plastik di pinggir galian.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook