
Ini bukan permintaan untuk menjadi kaya raya, melainkan permintaan untuk “diakui” sebagai warga negara yang berhak hidup dari tanah kelahirannya sendiri.
Timah akan habis. Ajakan untuk beralih ke sawit, hortikultura, hingga UMKM adalah visi jangka panjang yang bijak.
Namun, transisi dari tambang ke tani tidak semudah membalik telapak tangan. Perut yang lapar tidak bisa diajak berdiskusi tentang panen sawit tiga tahun mendatang.
Masyarakat butuh jembatan, dan jembatan itu bernama toleransi serta regulasi yang berpihak.
Selama regulasi masih tersendat di meja-meja tinggi di Jakarta, kehidupan di Lubuk Besar tidak boleh berhenti. Jangan biarkan tangan-tangan yang hanya ingin menyuapi anaknya harus terborgol oleh birokrasi yang kaku.
Sebelum aturan yang sempurna itu lahir, biarkanlah rakyat Perlang tetap tersenyum saat menukar kue dengan segenggam timah. Sebab, di balik setiap butir pasir yang mereka cuci, ada doa seorang anak yang ingin tetap bersekolah.