
INTRIK.ID, BABEL – Bagi sebagian orang, oven dan kulkas hanyalah peralatan dapur biasa. Namun bagi pelaku UMKM seperti Serli Heryani dan Asriyani, dua peralatan itu menjadi titik balik yang membantu usaha mereka naik kelas.
Di balik angka ratusan UMKM binaan PT Timah (Persero) Tbk sepanjang 2025, tersimpan cerita-cerita kecil tentang pelaku usaha yang berhasil meningkatkan produksi, memperluas pasar, hingga merasakan kenaikan penjualan berkat dukungan perusahaan melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK).
Serli Heryani, pemilik usaha kuliner Mama Naya Bolen, merasakan langsung dampak program tersebut. Berawal dari usaha rumahan dengan kapasitas produksi terbatas, kini produknya semakin dikenal masyarakat dan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Menurut Serli, tambahan peralatan seperti oven dan showcase yang diperoleh melalui program PUMK menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan usahanya.
“Alhamdulillah, sejak menjadi mitra binaan, usaha saya semakin berkembang. Penjualan juga meningkat, bahkan saat momen hari raya tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Bukan hanya soal peralatan, Serli juga mengaku mendapatkan manfaat dari berbagai pelatihan yang diberikan PT Timah, terutama dalam pengelolaan keuangan usaha.
“Kalau dulu usaha berjalan apa adanya, sekarang saya lebih memahami cara mengatur keuangan dan merencanakan pengembangan usaha,” katanya.
Cerita serupa datang dari Asriyani, pemilik produk olahan khas Bangka, Asri Rusip. Baginya, bantuan sebuah kulkas memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Sebelumnya, keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat dirinya kesulitan menjaga kualitas produk dan menambah stok dalam jumlah besar.
“Alhamdulillah, saya mendapat bantuan kulkas dari PT Timah. Kulkas lama sudah tidak dingin lagi sehingga rusip sulit disimpan dalam jumlah banyak. Dengan kulkas baru ini, saya bisa menyimpan stok lebih banyak dan kualitas produk tetap terjaga,” ungkapnya.
Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih baik, Asri kini lebih optimistis memenuhi permintaan dari toko oleh-oleh, reseller, hingga pelanggan tetap yang terus bertambah.
Di tingkat yang lebih luas, kisah Serli dan Asri menjadi gambaran bagaimana program pemberdayaan UMKM tidak selalu dimulai dari bantuan besar. Kadang, perubahan justru lahir dari kebutuhan paling sederhana yang selama ini menjadi hambatan usaha.
Sepanjang tahun 2025, PT Timah tercatat memfasilitasi 154 mitra binaan mengikuti pameran dan bazar, memberikan pelatihan kepada 112 pelaku usaha, serta menyalurkan bantuan alat produksi kepada 24 UMKM sesuai kebutuhan masing-masing.
Melalui pendekatan tersebut, PT Timah tidak hanya memberikan modal usaha, tetapi juga membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat manajemen bisnis, dan memperluas akses pasar.
Bagi para pelaku usaha kecil, keberhasilan bukan selalu ditandai dengan berdirinya pabrik besar atau omzet miliaran rupiah. Terkadang, keberhasilan dimulai dari sebuah oven yang mampu memanggang lebih banyak produk, atau kulkas yang menjaga kualitas dagangan agar tetap layak sampai ke tangan pelanggan.
Dari dapur-dapur kecil itulah roda ekonomi masyarakat perlahan bergerak dan tumbuh. (*)
Sumber: PT Timah Tbk