
Untuk itu, Fernando menilai sangat wajar jika dalam pembelian token dapat menghabiskan hingga Rp 40 juta perbulannya.
“Beda kayak kWh di rumah, enggak mungkin satu kWh lampu PJU itu hanya kita isikan token 100 ribu ataupun 200 ribu saja. Karena otomatis akan cepat habis dan ujung-ujungnya padam,” terangnya.
Diakui Fernando, pihaknya bahkan tidak pernah membiarkan token lampu PJU tersebut sampai benar-benar habis dan padam.
“Justru kadang-kadang kami isi lebih, soalnya kami juga punya perhitungannya supaya lampu PJU tersebut jangan sampai padam,” sambung Dia.
Sekedar informasi, Dinperkimhub Bangka Tengah memang sudah mulai melakukan pergantian lampu PJU yang bersumber dari tenaga surya menjadi PJU dari tenaga PLN yang diganti secara bertahap agar tidak ada lagi kendala lampu mati dan lainnya.
Sebagai bukti, pihaknya melakukan pembelian token lampu PJU di kantor pos dengan bukti pembelian dan Surat Pertanggung Jawaban (SPJ) yang jelas.