
INTRIK.ID — Indonesia memiliki wilayah laut yang dilintasi jaringan kabel komunikasi internasional. Namun, di balik posisi geografis yang strategis itu, konektivitas internet nasional justru masih sangat bergantung pada Singapura.
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Denny Setiawan, pada 8 Juni 2026 mengungkapkan sekitar 90 persen trafik internet Indonesia masih bergantung pada jalur konektivitas yang melewati Singapura.
“Jujur, sekarang traffic kita 90 persen tergantung Singapura,” kata Denny dalam diskusi pada ajang Selular Award 2026 di Jakarta, sebagaimana diberitakan ANTARA.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan besar bagi Indonesia dalam membangun kemandirian infrastruktur digital, terutama ketika kebutuhan konektivitas terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Singapura Jadi Gerbang Internet Internasional
Ketergantungan tersebut tidak terlepas dari posisi Singapura sebagai salah satu pusat konektivitas digital utama di Asia Tenggara.
Negara kota itu menjadi lokasi penting bagi jaringan kabel serat optik bawah laut, pusat data, serta layanan komputasi awan (cloud) yang menghubungkan berbagai jaringan internet global.
Kondisi tersebut membuat Singapura menjadi titik penghubung strategis bagi trafik data internasional Indonesia.
Bagi operator telekomunikasi, keberadaan infrastruktur yang terkonsentrasi di satu kawasan dapat memberikan keuntungan dari sisi konektivitas. Namun, konsentrasi jalur juga menimbulkan risiko apabila terjadi gangguan pada rute atau simpul jaringan yang menjadi tumpuan.
Bank Dunia dalam laporan Digital Foundations for Growth turut menyoroti konsentrasi konektivitas internasional Indonesia pada koridor Singapura-Batam. Ketergantungan pada koridor tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kemacetan jaringan maupun gangguan akibat bencana dan faktor lainnya.