
Menurutnya, semangat pendirian masjid di seluruh pelosok Pulau Bangka dimulai dengan kedatangan ulama-ulama ke Pulau Bangka, ditambah dengan kedatangan ulama besar bernama Muhammad Afif yang merupakan orang tua Syaikh Abdurrahman Siddiq, sehingga terjadilah intensifikasi yang cukup kuat.
“Bersamaan dengan itu, terjadi pendirian masjid di masing-masing kampung di Pulau Bangka. Misalnya, diawali dengan pembangunan Masjid Jamik di Muntok, Masjid Jamik di Kotawaringin, dan Masjid Jamik di Desa Kemuja,” jelasnya.
Selain itu, Ketua I MUI Babel ini juga mengisahkan secara singkat awal mula islamisasi di Pulau Bangka. Yakni, masuknya orang-orang dari Arab ke Bangka bersamaan dengan kehadiran Kesultanan Samudera Pasai di Sumatera, kemudian kedatangan Kesultanan Johor Pangeran Sarah, Kesultanan Pagaruyung Minangkabau Raja Alam Harimau Garang, dan kedatangan Bupati Nusantara sebagai utusan Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten Islam, hingga Kesultanan Palembang Darussalam yang diawali oleh Sultan Abdurrahman sampai pada Sultan Badaruddin II.
Baru kemudian di pertengahan Abad ke-19, terjadilah rihlah imliah yang cukup kuat, ditandai dengan perginya orang-orang Bangka ke kota Mekkah untuk menuntut ilmu. Baik ilmu tauhid, syariah, fikih, akhlak berikut tasawuf, dan dasar-dasar ilmu yang lain seperti ulumul Qur’an, Ilumul Hadits, Bahasa Arab dan ilmu keislaman lainnya.