
INTRIK.ID, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan keras kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) di tengah ancaman perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan lembaga penyedia indeks saham global tersebut. Namun, di tengah pesan perlawanan yang disampaikan Presiden, pasar modal Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk menjawab persoalan transparansi dan kepercayaan investor.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
“Gangguan masih banyak. Kita terus dihadang, ada apa itu, macam-macam lah. MSCI, macam-macam. Dia mau takut-takuti kita,” kata Prabowo.
Ia kemudian menyampaikan pesan tegas kepada lembaga tersebut bahwa Indonesia tidak akan tunduk pada tekanan dari pihak mana pun.
“Saya hanya katakan kepada MSCI, bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar,” ujarnya.
Prabowo juga menegaskan Indonesia memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan. Bahkan, ia membuka kemungkinan penghematan anggaran lebih besar apabila diperlukan.
“Kalau perlu, kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul setelah MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar berkembang menjadi pasar mandiri.
Tekanan akibat perkembangan MSCI sudah terasa di pasar saham. Pada Jumat (16/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185,10.
Penurunan tajam itu terjadi setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar Indonesia. Perdagangan saham saat itu sempat dihentikan sementara setelah indeks merosot tajam pada awal sesi.