Scroll untuk baca artikel
BangkaPeristiwa

Petani Sawit Desa Mapur Sampaikan Aspirasi, Minta Jalur Khusus

435
×

Petani Sawit Desa Mapur Sampaikan Aspirasi, Minta Jalur Khusus

Sebarkan artikel ini
IMG20230802084347
Caption : Petani sawit Desa Mapur Sampaikan Aspirasi di depan kantor PT. GPL

BANGKA. RIAU SILIP. INTRIK. ID – Seiring perjalanan waktu perkembangan perkebunan kelapa sawit rakyat, khusus di Kabupaten Bangka mengalami peningkatan. Akibatnya produksi Tandan Buah Sawit ( TBS ) ikut meningkatkan.

Kapasitas tampung pabrik pengolahan CPO terbatas, kondisi ini menimbulkan masalah baru. Sistem antrian masuk TBS ke pabrik salah satu cara mengatasi lonjakan produksi TBS. Fenomena ini terjadi di Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, dimana PT. Gunung Pelawan Lestari ( PT. GPL ) sebagai pihak pengelola CPO memberlakukan sistem antrian dimaksud.

Antrian terlalu lama berdampak pada kualitas TBS, akibat terjadinya restan TBS. Menyikapi aturan tersebut sejumlah petani sawit Desa Mapur mendatangi manajemen PT. GPL untuk sampai aspirasinya, Rabu ( 2/8/2023) pagi.

Naga warga setempat mewakili petani sawit, meminta agar manajemen PT. GPL memberi Jalur khusus masuk TBS ke Pabrik bagi petani Sawit Desa Mapur.

“Desa Mapur terdiri dari 788 KK, sekitar 70 persen petani Sawit, seluruh buah sawit itu dibawa ke PT .GPL satu bulan 700 ton untuk diolah. Namun terkendala soal antrian masuk buah sawit, mengingat Pabrik olah berada di Desa Mapur, kami berharap ada kemudahan jalur khusus untuk petani sawit desa Mapur tanpa antrian lama ,” ungkapnya.

Menurut pengalaman Naga, jika antrian terlalu lama menyebabkan TBS mengalami restan. Akibatnya TBS yang restan dikembalikan bisa mengurangi omset.

“700 ton buah sawit itu belum semua punya petani panen, kalau nanti panen bisa ribuan ton, jika antrian lama jadi hambatan buah sawit bisa restan. Satu bulan lalu banyak buah sawit petani desa Mapur dikembalikan. Kami berharap dengan keberadaan pabrik di desa Mapur buah sawit bisa masuk tanpa restan, jalur cepat satu jam bongkar,” pintanya.

Masih kata Naga keberadaan pabrik PT. GPL masuk administrasi Desa Mapur, saat mendirikan perkebunan dan pabrik warga mendukung. Untuk itu pihaknya meminta agar dibentuk jalur khusus.

“Dari awal pendirian pabrik PT. GPL warga mendukung, maksud kami beri lah sedikit kebanggaan agar warga bisa sejahtera. Kemarin cukup banyak buah sawit dikembalikan , termasuk buah sawit saya, intinya manajemen penerimaan buah sawit terlalu ribet,” ujarnya.

Menanggapi aspirasi petani sawit Desa Mapur, kepala kantor PT. GPL wilayah Bangka Adiansyah menyebutkan pihak perusahaan ada aturannya.

“Sebenarnya kita dari awal sudah ada aturan , petani ESA dan umum pola antrian masuk TBS kita lakukan 4 truk Petani ESA, satu truk Petani umum. Dulu produksi buah sawit Desa Mapur hanya 10 truk, sekarang minat masyarakat berkebun sawit dan produksi buah sudah banyak faktor ini jadi pemicu,” kata Adiansyah.

Kepala kantor PT. GPL cabang Bangka Adiansyah juga mengutarakan, kalau pihak Perusahaan juga membina petani sawit diluar program plasma.

” Kita dari perusahaan juga membina petani ESA menyampaikan bagaimana sistim budidaya sawit, tidak gunakan pembakaran dalam buka lahan.Petani ESA ini petani dibina perusahaan diluar program plasma. Intinya ada peningkatan produksi buah sawit hingga terjadi penyampaian aspirasi petani sawit, terkait aspirasi masyarakat kita tinjau ulang nanti akan kita sampaikan dengan pimpinan,” tutupnya.

Home
Hot
Redaksi
Cari
Ke Atas