
Candi Pawon adalah salah satu peninggalan masa klasik bercorak Buddha. Belum ada data-data kuat yang memastikan kapan dibangunnya candi ini. Sejauh ini hanya ada perkiraan bahwa pembangunan candi dilakukan pada masa Wangsa Syailendra pada kisaran abad ke-8 – ke-9 Masehi.
J.G. de Casparis berpendapat, candi ini adalah tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (782-812 M), ayah Raja Samaratungga (792-835 M). Di ruangan candi diduga semula terdapat Arca Bodhisattva, sebagai penghormatan pada Raja Indra yang dianggap telah mencapai tataran Bodhisattva.
Perihal namanya, Casparis menafsirkan bahwa istilah “pawon” berasal dari “awu” yang berarti “abu“. Kata tersebut mendapatkan awalan pa- dan akhiran -an untuk menunjukkan suatu tempat. Sementara itu dalam bahasa Jawa sehari-hari istilah pawon lazim dimaknai sebagai “dapur“.
Warga setempat juga menyebutnya Candi Brajanalan, karena lokasinya di Dusun Brojonalan. Istilah Brajanalan bisa jadi berasal dari bahasa Sanskerta, vajra (halilintar) dan anala (api). Prasasti Karang Tengah menyebutkan bahwa arca Bodhisattva dalam ruangan candi mengeluarkan vajra (sinar).
Dalam sejarahnya, Candi Pawon ditemukan pertama kalinya pada akhir abad ke-19. Candi ini ditemukan dalam keadaan rusak dan tertimbun semak belukar. Perbaikan awal dilakukan tahun 1903, sedangkan pemugaran dilakukan sejak tahun 1897-1904. Van Erp melanjutkannya pada tahun 1908.
