
Selia Naya Kabila
Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung
Perkembangan ekonomi digital telah membawa perubahan signifikan bagi berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bangka Belitung (Babel). Sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, terutama timah dan kelautan, Babel kini mulai merasakan dampak positif dari transformasi digital. Ekonomi digital tidak hanya membuka lapangan kerja baru tetapi juga memperluas pasar bagi produk lokal, meningkatkan efisiensi bisnis, dan mendorong inovasi di berbagai sektor.
Salah satu pengaruh paling nyata dari ekonomi digital terhadap perekonomian Bangka Belitung adalah tumbuhnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis digital. Banyak pelaku UMKM di Bangka Belitung, terutama yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan tangan, dan produk olahan hasil laut seperti kerupuk ikan, sambal rusip, atau terasi, mulai memanfaatkan platform digital seperti marketplace dan media sosial untuk memasarkan produknya. Ini menjadi solusi atas keterbatasan pasar lokal dan akses ke konsumen di luar daerah.
Dengan digitalisasi, UMKM di Babel tidak hanya mampu memperluas pasar, tetapi juga meningkatkan daya saing produknya melalui kemasan yang lebih baik, pelayanan konsumen yang responsif, serta sistem pembayaran yang lebih efisien melalui fintech. Bahkan, di beberapa kabupaten seperti Bangka Tengah dan Belitung, program pelatihan digitalisasi UMKM telah mulai dijalankan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan instansi swasta dan kampus.
Ekonomi digital juga membuka peluang baru bagi anak muda Bangka Belitung untuk menjadi wirausaha mandiri atau freelancer di sektor digital. Kemudahan akses internet di kota-kota besar seperti Pangkalpinang, Tanjung Pandan, dan Sungailiat telah mendorong tumbuhnya profesi baru seperti content creator, desainer grafis, fotografer digital, admin media sosial, hingga dropshipper dan reseller online.
Model pekerjaan fleksibel ini sangat sesuai dengan karakteristik generasi muda saat ini yang ingin lepas dari ketergantungan kerja formal. Selain itu, ekonomi digital juga memungkinkan munculnya start-up lokal, meskipun masih dalam skala kecil, yang berfokus pada solusi lokal seperti logistik antar-pulau, pemesanan makanan lokal, dan promosi pariwisata berbasis digital.
Sektor pariwisata adalah salah satu andalan perekonomian Bangka Belitung. Dengan keindahan pantai-pantai seperti Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Parai Tenggiri, dan Danau Kaolin, Babel memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi unggulan di Indonesia. Ekonomi digital telah membantu mempromosikan potensi ini secara luas melalui platform wisata, media sosial, blog, dan kanal YouTube.
Banyak pelaku wisata lokal mulai memanfaatkan aplikasi reservasi daring untuk penginapan dan tur, serta melakukan promosi aktif di media digital. Hal ini berdampak langsung terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dari luar provinsi. Ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, seperti produksi suvenir, batik khas Babel, hingga makanan khas juga mendapat panggung lebih luas melalui media digital.
Meski perkembangan ekonomi digital memberi banyak manfaat, Bangka Belitung masih menghadapi tantangan besar, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota atau berada di pulau-pulau kecil. Akses internet yang belum merata menjadi hambatan utama bagi pemerataan digitalisasi ekonomi. Kecepatan internet yang rendah dan biaya perangkat yang relatif mahal masih membatasi partisipasi masyarakat di sektor digital.
Selain itu, masih rendahnya tingkat literasi digital di sebagian masyarakat juga menjadi tantangan serius. Banyak pelaku usaha tradisional yang belum paham cara memasarkan produknya secara digital atau belum percaya pada sistem pembayaran online. Ini menjadi tugas bersama antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan swasta untuk membangun kapasitas digital masyarakat, khususnya UMKM dan generasi muda di desa-desa.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mulai mengambil langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital, antara lain melalui pelatihan UMKM digital, pembangunan jaringan internet desa, hingga penyediaan platform informasi pariwisata digital. Namun, upaya ini perlu diperluas secara masif dan terkoordinasi.
Diperlukan kebijakan yang mendukung ekosistem digital secara menyeluruh: mulai dari infrastruktur internet, pelatihan tenaga kerja digital, insentif bagi pelaku usaha digital, hingga kemudahan akses permodalan untuk wirausaha muda dan start-up. Kolaborasi antara pemda, kampus, dan sektor swasta harus diperkuat agar ekonomi digital bisa benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi Babel ke depan.
Ekonomi digital telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian Bangka Belitung, terutama dalam meningkatkan produktivitas UMKM, menciptakan lapangan kerja baru, serta memperluas promosi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun, untuk memaksimalkan manfaat tersebut, tantangan akses dan literasi digital harus segera diatasi melalui sinergi lintas sektor.
Sebagai mahasiswa dan generasi muda, kita memiliki peran penting dalam transformasi ini. Dengan menguasai keterampilan digital, mengembangkan ide-ide kreatif, dan memberdayakan masyarakat lokal, kita dapat menjadi agen perubahan dalam pembangunan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan di Bangka Belitung.*