
INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Pengidap HIV/AIDS di Bangka Tengah selama dua tahun terakhir bertambah banyak. Dari data yang ada, kasus HIV/AIDS di Bangka Tengah naik sekitar 25 persen setiap tahunnya dimana di tahun 2024 kasus HIV/AIDS ditemukan 20 kasus dan di tahun 2025 bertambah jadi 25 kasus.
Padahal, tingkat kematian karena HIV/AIDS mencapai 90 persen pada penderita yang tidak melakukan pengobatan.
Kepala Dinas Kesehatan Bangka Tengah Zaitun menegaskan, HIV/AIDS bisa terjangkit ke siapa saja yang berprilaku seksual menyimpang dan beresiko.
“Semua orang bisa kena HIV/AIDS. Terlebih kelakuan seksual menyimpang dan juga seksual beresiko. Itu sangat rentan, ” tegasnya, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, meningkatnya kasus HIV/AIDS di Bangka Tengah bukan terjadi peningkatan, namun kesadaran skrining atau deteksi dini menjadi pemicu naiknya kasus HIV/AIDS yang menjadi fenomena gunung es.
“Angka 25 ini mungkin bukan angka real yang mana HIV/AIDS ini adalah fenomena gunung es. Bisa jadi angkanya lebih besar kalau masyarakat sadar untuk skrining HIV/AIDS semuanya agar terdeteksi semuanya, ” jelasnya.
Warga Kelurahan Berok itu juga mengatakan, skrining HIV/AIDS semuanya gratis dan setiap pasien yang melakukan skrining itu dirahasiakan identitasnya. Termasuk jika memang positif HIV/AIDS dengan catatan ia harus memberitahukan hal tersebut secara suka rela kepada pasangannya dan bersedia melakukan pengobatan rutin.
“Skrining gratis, data dan rahasia dijaga. Sebenarnya HIV/AiDS bukan aib, namun masyarakat masih tabu memang dengan hal ini. Padahal semua orang bisa terkena. Bukan cuma karena hubungan intim, tetapi donor darah, suntik narkoba dan hal lainnya yang berhubungan dengan darah bisa tertular, ” ujarnya.
“Saat ini seluruh puskesmas di Bangka Tengah bida melayan skrining dan pengobatan HIV/AIDS. Yang mau bisa langsung ke puskesmas terdekat dan gratis, ” tukasnya.