
“Jadi kami sekarang tergabung dalam Komunitas Pemantun Rumpun Melayu Bangka Belitung. Komunitas pantun sudah didirikan dari 2010. Kami mendirikan komunitas ini untuk melestarikan budaya melayu,” ucap Kario kepada intrik.id.
“Ada sekitar 30 orang di dalam komunitas ini dan itu Se-Babel. Namun sudah ada yang meninggal dan beberapa sudah tidak terlalu menggeluti dan yang bertahan hanya sekitar 30 orang saja,” lanjutnya.
“Pemerintah sekarang kurang peduli dengan pemantun. Padahal Kapolda saja dulu pernah bilang semoga semua kepala daerah peduli dengan pantun. Setahu saya, jamannya gubernurnya Hudarni Rani almarhum yang mendukung pemantun,” tambahnya.
Kario menuturkan pemerintah sendiri belum memperhatikan pantun yang memang seharusnya dilestarikan dan dikenalkan ke generasi muda.
“Untuk sekarang kami belum direspon dan belum dapat sinyal. Tapi saya yakin nanti akan diperhatikan oleh pemerintah karena ini adalah budaya yang perlu dilestarikan,” tuturnya.
Ia menegaskan, jika ingin jadi pemantun harus mampu berpantun secara spontan.
“Kalau seniman pantun belum bisa buat pantun spontan namanya bukan seniman pantun. Datuk Mahakam dari universitas Malaka Malaysia pernah berkata, pantun itu adalah seni yang diucapkan dengan lisan bukan dibaca dan dihafal sehingga menjadi seni yang indah. Tapi bukan berarti yang belum bisa spontan tetap harus belajar agar terbiasa. Kalau pantun hanya sekedar ditulis fan dihafal itu bukan lah karya pantun lagi, ” tuturnya.