
Ia menyebut sejumlah komoditas seperti cabai, beras, telur dan kebutuhan pokok lainnya mengalami kenaikan yang dirasakan hampir setiap pekan.
Kenaikan tersebut, kata dia, akhirnya turut menekan pedagang karena masyarakat mulai mengurangi pembelian.
“Kalau bahan pokok mahal itu bisa memicu pertengkaran rumah tangga di tengah ekonomi sulit,” ujarnya.
Adi menilai persoalan harga sembako tidak bisa hanya dilihat dari sisi pedagang. Ketika harga naik, masyarakat sebagai konsumen ikut terdampak dan akhirnya mengurangi belanja.
Di sisi lain, pedagang juga tidak mungkin menjual jauh di bawah harga modal karena harus menanggung biaya operasional dan mengambil keuntungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pembeli mengeluh mahal, kami juga sebenarnya tidak bisa berbuat banyak karena harga dari pemasok sudah tinggi. Akhirnya sama-sama tertekan,” katanya.