
Baginya, harga Rp160 ribu ini cukup bagi penambang kecil seperti dirinya, karena Ia hanya bekerja sendiri dan sudah menggunakan alat milik sendiri. Namun, Ia berharap agar harga ini naik terus mengingat harga BBM yang terus naik.
“Kalau sebagai penambang mau harganya lebih tinggi, tapi kalau harga 160 ini lumayan. Karena kami kan biasanya hasilnya 3-5kg sehari. Ongkos untuk nambang sekitar 200 ribu. Saya kerja sendiri jadi masih ketutup ongkos, cuma kadang kalau ada kerusakan alat agak bingung. Namanya kita cari rezeki di laut kan enggak menentu, kadang naik-naik enggak dapat timah, rugi kita,” ceritanya.
Baginya, sebagai penambang mereka tak selalu menghasilkan timah, seperti gelombang tinggi, kerusakan alat tambang dan cuaca yang tidak menentu. Sehingga disaat menghasilkan mereka harus bisa menyimpan uang.
“Biasanya istri yang ngatur uang, kalau harga timah bagus pasti pendapatan nambah. Setidaknya kita bisa sedikit simpan uangnya. Karena kebutuhan juga bertambah. Harga naik dan stabil ini baru dalam beberapa minggu, biasanya kan harga cepat sekali turun naik. Semoga nanti bisa naik lagi,” harapnya.
Saat disinggung soal konflik harga timah yang mencuat beberapa waktu lalu. Rafiq mengatakan, dirinya memang sudah merasakan kenaikan harga timah dan saat ini hanya ingin ikut aturan main yang berlaku yang penting dirinya bisa bekerja dengan tenang.
“Susah juga kalau harga mahal tapi enggak ada yang mau beli. Semoga nanti harga enggak turun lagi, karena dengan harga yang sekarang pas-pasan sekali,” ucapnya.