Menu Kering MBG Saat Ramadhan di Belitung: Solusi Tambal Sulam di Tengah Abainya Negara

    Caption: Tira

    Oleh : Tira (Aktivitas Muslimah Bangka Belitung)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilaksanakan selama bulan Ramadhan di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hanya saja, pelaksanaannya mengalami penyesuaian karena siswa sedang menjalankan ibadah puasa.

    Pelaksana program di daerah tersebut menjelaskan bahwa makanan tidak lagi disajikan dalam bentuk siap santap di sekolah. Sebagai gantinya, siswa menerima menu kering yang bisa dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Paket makanan itu umumnya berisi roti, telur, susu, dan buah yang dinilai lebih tahan lama serta praktis dibawa pulang oleh siswa.

    Kebijakan ini disebut sebagai bentuk adaptasi agar tujuan program MBG tetap tercapai, yakni memastikan anak-anak sekolah tetap mendapatkan asupan gizi meskipun sedang berpuasa.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    Namun di balik kebijakan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: mengapa negara harus menyediakan makanan bagi siswa secara massal? Bukankah secara ideal keluarga seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan anak-anak mereka sendiri?

    Pertanyaan ini mengarah pada persoalan yang lebih besar, yakni *kondisi kesejahteraan masyarakat yang belum sepenuhnya terjamin.*

    Ketika Negara Hanya Menjadi Pemberi Bantuan

    Program MBG sering dipromosikan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun jika dicermati secara kritis, program ini justru memperlihatkan fakta lain: banyak keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasar anak-anak mereka sendiri.

    Jika kebutuhan makan anak harus dipenuhi oleh negara melalui program khusus, itu berarti ada masalah serius pada sistem ekonomi yang berjalan. Sistem yang ada tidak mampu memastikan setiap keluarga memiliki pendapatan yang cukup untuk menyediakan makanan bergizi bagi anaknya.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    Alih-alih menyelesaikan akar persoalan, negara justru menghadirkan program bantuan yang bersifat tambal sulam.

    Masalah mendasar seperti kemiskinan, mahalnya harga pangan, ketimpangan ekonomi, hingga terbatasnya lapangan pekerjaan sering kali tidak disentuh secara serius. Negara akhirnya hadir bukan sebagai penjamin kesejahteraan rakyat, melainkan sekadar pemberi bantuan sementara.

    Ironisnya, program seperti MBG sering dijadikan solusi utama seolah-olah persoalan gizi anak akan selesai dengan membagikan paket makanan di sekolah.

    Padahal realitas sosial menunjukkan banyak persoalan lain yang tidak kalah mendesak, seperti angka putus sekolah yang masih tinggi akibat faktor ekonomi. Banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah karena orang tua tidak mampu membiayai pendidikan mereka.

    Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan kritis: apakah pembagian makanan menjadi prioritas utama, sementara persoalan ekonomi keluarga dan akses pendidikan masih menjadi masalah besar?

    Dalam perspektif Islam, negara tidak boleh bersikap seperti ini. Negara bukan sekadar pengelola program bantuan, melainkan penanggung jawab langsung atas kesejahteraan rakyatnya.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.”

    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi. Artinya, negara tidak boleh membiarkan rakyat berada dalam kondisi sulit hingga harus bergantung pada bantuan program demi memenuhi kebutuhan dasar.

    Negara Sebagai Pengurus Rakyat

    Islam memiliki konsep kepemimpinan yang sangat berbeda dengan praktik negara modern saat ini. Dalam Islam, negara berfungsi sebagai *raa’in* (pengurus) yang secara aktif memastikan kesejahteraan rakyatnya.

    Pemimpin tidak hanya membuat kebijakan administratif, tetapi juga memastikan setiap individu rakyat mendapatkan hak-haknya secara layak.

    sejarah pemerintahan islam memberikan banyak contoh nyata.

    Pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, beliau pernah menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. Setelah mengetahui kondisi tersebut, Umar langsung memanggul sendiri karung gandum dari baitul mal dan mengantarkannya kepada keluarga itu.

    Peristiwa ini bukan sekadar kisah kepedulian pribadi seorang pemimpin. Ini menunjukkan bagaimana negara dalam Islam memiliki tanggung jawab langsung terhadap kebutuhan rakyatnya.

    Dalam sistem pemerintahan Islam, negara memastikan kebutuhan dasar rakyat—seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan—dapat terpenuhi dengan baik. Negara juga mengelola sumber daya alam untuk kepentingan seluruh rakyat, sehingga kesejahteraan dapat dirasakan secara merata.

    Jika sistem seperti ini diterapkan, maka persoalan seperti kekurangan gizi pada anak-anak tidak perlu diselesaikan melalui program bantuan yang bersifat sementara. Sebab setiap keluarga sudah memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

    Karena itu, persoalan gizi anak dan kesejahteraan masyarakat tidak cukup diselesaikan dengan program pembagian makanan seperti MBG. Yang lebih penting adalah menghadirkan sistem pemerintahan yang benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

    Tanpa perubahan mendasar dalam cara negara mengurus rakyatnya, berbagai program bantuan akan terus muncul silih berganti—namun persoalan yang sama akan tetap berulang dari waktu ke waktu.

    Wallahu A’lam.

    Mungkin Suka Ini juga:
    Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat

    Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat

    Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan

    Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan

    Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk dari AS, Pertimbangan Iman atau Aman?

    Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk dari AS, Pertimbangan Iman atau Aman?

    Membungkam Kritik, Memelihara Kuasa: Ketika Kepemimpinan Kehilangan Arah

    Membungkam Kritik, Memelihara Kuasa: Ketika Kepemimpinan Kehilangan Arah

    Dibalik Sisa-sisa Kejayaan: Ketika Butiran Timah Beradu dengan Isi Perut

    Dibalik Sisa-sisa Kejayaan: Ketika Butiran Timah Beradu dengan Isi Perut

    Ideologisasi Islam: Membentuk Generasi Pelopor Perubahan di Tengah Hegemoni Digital

    Ideologisasi Islam: Membentuk Generasi Pelopor Perubahan di Tengah Hegemoni Digital