Membungkam Kritik, Memelihara Kuasa: Ketika Kepemimpinan Kehilangan Arah

Caption: Ilustrasi pembungkaman oleh penguasa. (Ist)

Selia Naya Kabila

Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung

 

Dalam organisasi yang sehat, kritik bukan ancaman. Ia adalah mekanisme koreksi. Kritik membantu pemimpin melihat titik buta, memperbaiki kebijakan, dan mencegah kesalahan berulang. Namun dalam praktiknya, tidak semua pemimpin memandang kritik sebagai bentuk kepedulian. Sebagian justru melihatnya sebagai ancaman terhadap wibawa dan kekuasaan.

Space Iklan/0853-1197-2121

Di sinilah persoalan bermula. Ketika kekuasaan lebih difokuskan untuk mempertahankan posisi daripada memperbaiki sistem, kritik perlahan dibungkam. Tidak selalu dengan cara kasar. Kadang cukup dengan mengabaikan pendapat, membatasi ruang diskusi, atau memberi label “tidak loyal” pada pihak yang berbeda pandangan. Organisasi terlihat tenang, tetapi ketenangan itu lahir dari ketakutan, bukan dari kepercayaan.

Secara teori, kekuasaan dapat bersumber dari jabatan, keahlian, penghargaan, maupun kemampuan memberi sanksi, sebagaimana dijelaskan oleh John R. P. French dan Bertram Raven. Masalah muncul ketika kekuasaan koersif dan legitimasi formal digunakan secara dominan tanpa diimbangi kemampuan membangun kepercayaan. Dalam situasi seperti ini, perbedaan pendapat mudah dianggap sebagai pembangkangan.

Lebih jauh, pembungkaman kritik berkaitan dengan rendahnya psychological safety—konsep yang dikembangkan oleh Amy Edmondson. Psychological safety adalah kondisi ketika anggota organisasi merasa aman untuk berbicara tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Tanpa rasa aman tersebut, karyawan memilih diam. Mereka berhenti memberi masukan, berhenti mempertanyakan keputusan, dan pada akhirnya berhenti peduli.

Dampaknya tidak langsung terlihat. Laporan tetap berjalan, target mungkin tetap tercapai, dan konflik tampak minim. Namun dalam jangka panjang, budaya diam (silent culture) menggerogoti daya tahan organisasi. Inovasi menurun karena ide-ide baru tidak pernah muncul ke permukaan. Kesalahan strategis tidak dikoreksi lebih awal. Loyalitas berubah menjadi kepatuhan pasif.

Space Iklan/0853-1197-2121

Yang perlu dipahami, persoalan ini bukan semata-mata tentang karakter individu pemimpin. Struktur kekuasaan yang terlalu terpusat, minim evaluasi, dan lemah dalam mekanisme check and balance turut memperkuat praktik tersebut. Ketika sistem tidak menyediakan ruang dialog yang sehat, pembungkaman dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, kepemimpinan yang matang justru diuji saat menerima kritik. Otoritas yang kuat tidak takut pada perbedaan. Sebaliknya, ia mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan kolektif. Pemimpin yang percaya diri memahami bahwa legitimasi tidak hanya lahir dari jabatan, tetapi juga dari integritas dan keterbukaan.

Pada akhirnya, organisasi yang terus membungkam kritik mungkin akan terlihat stabil, tetapi stabilitas itu rapuh. Tanpa ruang dialog, tanpa keberanian untuk berbeda, dan tanpa mekanisme koreksi, kekuasaan berpotensi kehilangan arah. Dan ketika kekuasaan kehilangan arah, organisasi pun perlahan kehilangan masa depannya.

 

Mungkin Suka Ini juga:
Dibalik Sisa-sisa Kejayaan: Ketika Butiran Timah Beradu dengan Isi Perut

Dibalik Sisa-sisa Kejayaan: Ketika Butiran Timah Beradu dengan Isi Perut

Ideologisasi Islam: Membentuk Generasi Pelopor Perubahan di Tengah Hegemoni Digital

Ideologisasi Islam: Membentuk Generasi Pelopor Perubahan di Tengah Hegemoni Digital

Narkoba Menghancurkan Generasi

Narkoba Menghancurkan Generasi

Rapuhnya Ketahanan Keluarga Muslim Akibat Sistem Liberal

Rapuhnya Ketahanan Keluarga Muslim Akibat Sistem Liberal

Fakta Kocak tapi Bermakna: Hiu Tak Pernah Tahu Bahwa Unta Itu Ada

Fakta Kocak tapi Bermakna: Hiu Tak Pernah Tahu Bahwa Unta Itu Ada

Indonesia Darurat KDRT dan Perceraian

Indonesia Darurat KDRT dan Perceraian

    Ikuti kami di Facebook