
INTRIK.ID, BABEL – Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BI Babel) memperkuat kembali komitmennya dalam mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Capacity Building dan Temu UMKM Binaan/Mitra yang dirancang untuk meningkatkan daya saing UMKM sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Kegiatan diawali dengan sesi edukasi bertema “Strategi Menumbuhkan UMKM Berdaya Saing” bersama narasumber dari Dewan IKRA Indonesia, Raden Muhammad Suherman. Dalam paparannya, Suherman menekankan bahwa kunci ketangguhan UMKM di tengah dinamika ekonomi global dan nasional terletak pada kemampuan berinovasi, menguatkan nilai lokal, dan membangun kolaborasi antarpelaku usaha.
Suherman juga menyoroti pentingnya kejelasan identitas usaha. Pelaku UMKM didorong untuk mampu menjelaskan siapa mereka, apa keunikan produk yang ditawarkan, dan alasan konsumen perlu memilih produk tersebut. Dengan demikian, produk tidak hanya dinilai dari sisi harga atau rasa, tetapi juga dari nilai, manfaat, dan identitas yang dibawanya.
Lebih lanjut, Suherman menegaskan bahwa sebuah usaha hanya akan mudah diingat dan dipercaya pasar jika memiliki brand DNA yang kuat, mulai dari visi, misi, nilai, hingga karakter yang terjaga konsistensinya. Menurutnya, brand yang autentik, relevan, dan konsisten—termasuk dalam rasa, rupa, dan warna produk—merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan pelanggan.
Selain penguatan aspek branding, Bank Indonesia juga mendorong peningkatan literasi keuangan pelaku UMKM. Hal ini dilakukan melalui pelatihan pemanfaatan Sistem Informasi Monitoring Ketahanan Pangan (SIKEPANG) serta pengenalan ekonomi dan keuangan syariah (Eksyar). Dalam sesi diskusi interaktif, BI Babel memberikan pendampingan agar pelaku UMKM mampu memperbarui data dan profil usaha secara mandiri melalui SIKEPANG. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memperbaiki tata kelola usaha dan meningkatkan akurasi data sebagai dasar pembinaan yang lebih tepat sasaran.
Pelatihan juga mencakup pengenalan prinsip-prinsip dasar ekonomi syariah yang dapat diintegrasikan ke dalam operasional bisnis, termasuk penguatan pemahaman awal menuju kualifikasi UMKM Industri Kreatif Syariah (IKRA). Diharapkan, pembekalan ini dapat membuka akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM untuk masuk ke ekosistem syariah dan rantai pasok halal, sekaligus memperkuat struktur bisnis mereka secara berkelanjutan.