
Proyek 2030 menjadi pekerjaan besar Malaysia
Pencarian pelatih baru tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan dalam waktu dekat. Malaysia juga menghadapi pekerjaan besar untuk membangun tim yang kompetitif dalam jangka panjang.
Jika akhirnya memilih pelatih asing berpengalaman, FAM perlu memastikan program yang disusun sesuai dengan kondisi pemain, sistem pembinaan, serta target kompetisi yang ingin dicapai.
Sebaliknya, mempertahankan pelatih lokal juga membutuhkan kejelasan mengenai kewenangan, dukungan teknis, dan ukuran keberhasilan yang harus dipenuhi.
Dalam konteks ini, nama Moriyasu menjadi menarik bukan semata-mata karena reputasinya bersama Jepang, melainkan karena kemungkinan arah baru yang ingin ditempuh Malaysia.
Namun, merekrut pelatih dengan pengalaman Piala Dunia tidak otomatis menjamin tiket ke putaran final. Kualitas pemain, persiapan tim, konsistensi federasi, dan hasil pertandingan tetap menentukan perjalanan sebuah negara dalam kualifikasi.
Hingga 16 Oktober 2026, publik masih harus menunggu keputusan resmi FAM. Untuk sementara, kemungkinan Moriyasu menangani Harimau Malaya tetap menjadi kabar yang menarik untuk diikuti, tetapi belum dapat disebut sebagai kepastian.
Bagi Malaysia, tantangan berikutnya bukan hanya menemukan nama besar untuk mengisi kursi pelatih, melainkan menentukan sosok yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tim dan mampu menjalankan program jangka panjang menuju 2030.