Malaysia Incar Pelatih Jepang, Misi Piala Dunia 2030 Jadi Taruhan

    Caption: Hajime Moriyasu. (Ist)

    INTRIK.ID, KUALA LUMPUR — Kursi pelatih Timnas Malaysia belum memiliki pemegang permanen. Di tengah upaya membangun kembali kekuatan Harimau Malaya, nama Hajime Moriyasu, pelatih Timnas Jepang, mulai dikaitkan dengan posisi tersebut.

    Namun, hingga Jumat (16/10/2026), kabar tersebut masih sebatas spekulasi. Belum ada konfirmasi bahwa Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) telah mencapai kesepakatan atau melakukan negosiasi resmi dengan pelatih asal Jepang itu.

    Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Mohammed Taufiq Johari, menegaskan penunjukan pelatih baru masih dalam pembahasan bersama FAM dan pihak terkait.

    Menurutnya, evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan performa dan proses kerja sebelum keputusan diumumkan.

    Pernyataan itu menunjukkan bahwa Malaysia belum menetapkan siapa yang akan memimpin tim nasional secara permanen untuk menghadapi agenda internasional mendatang.

    Nama Moriyasu muncul menjelang berakhirnya masa tugas di Jepang

    Hajime Moriyasu menjadi perhatian karena pengalamannya menangani Timnas Jepang di level internasional. Ia memimpin Samurai Biru sejak 2018 dan membawa Jepang tampil pada Piala Dunia 2022 serta 2026.

    Namanya mulai ramai diperbincangkan setelah sejumlah media melaporkan kemungkinan dirinya mencari tantangan baru setelah Piala Asia 2027 di Arab Saudi.

    Situasi tersebut memunculkan spekulasi bahwa Malaysia dapat menjadi salah satu tujuan berikutnya. Apalagi, Harimau Malaya tengah mempersiapkan program jangka panjang menuju kualifikasi Piala Dunia 2030.

    Meski demikian, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Moriyasu akan menerima tawaran Malaysia. Statusnya sebagai kandidat yang dikabarkan masuk radar juga tidak berarti dirinya telah menyatakan bersedia menangani Harimau Malaya.

    Berdasarkan pengumuman sebelumnya dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Moriyasu dijadwalkan tetap menangani Jepang hingga Piala Asia 2027. Setelah turnamen tersebut, Go Oiwa telah diumumkan sebagai penerusnya di Timnas Jepang.

    Pergantian itu membuka ruang bagi Moriyasu untuk mempertimbangkan langkah karier berikutnya, tetapi belum menjadi bukti bahwa ia akan berlabuh di Malaysia.

    FAM belum menutup peluang pelatih lokal

    Presiden FAM, Ab Ghani Hassan, sebelumnya menyatakan belum ada langkah konkret terkait penunjukan pelatih baru. Keputusan akhir juga tidak akan ditentukan oleh presiden seorang diri, melainkan melalui pembahasan di tingkat komite eksekutif.

    FAM disebut masih membuka dua kemungkinan, yakni merekrut pelatih asing atau mempertahankan pelatih lokal apabila dinilai mampu memenuhi target yang ditetapkan.

    Saat ini, Timnas Malaysia ditangani Tan Cheng Hoe sebagai pelatih interim. Ia membawa Harimau Malaya finis di posisi ketiga Piala ASEAN FIFA 2026 tanpa menelan kekalahan sepanjang turnamen.

    Malaysia mencatat kemenangan atas Bangladesh dan Singapura, bermain imbang melawan Indonesia, kemudian mengalahkan Vietnam dalam pertandingan perebutan tempat ketiga.

    Hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pembicaraan mengenai masa depan kursi kepelatihan. Namun, belum ada kepastian apakah Cheng Hoe akan dipertahankan atau digantikan pelatih asing.

    Proyek 2030 menjadi pekerjaan besar Malaysia

    Pencarian pelatih baru tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan dalam waktu dekat. Malaysia juga menghadapi pekerjaan besar untuk membangun tim yang kompetitif dalam jangka panjang.

    Jika akhirnya memilih pelatih asing berpengalaman, FAM perlu memastikan program yang disusun sesuai dengan kondisi pemain, sistem pembinaan, serta target kompetisi yang ingin dicapai.

    Sebaliknya, mempertahankan pelatih lokal juga membutuhkan kejelasan mengenai kewenangan, dukungan teknis, dan ukuran keberhasilan yang harus dipenuhi.

    Dalam konteks ini, nama Moriyasu menjadi menarik bukan semata-mata karena reputasinya bersama Jepang, melainkan karena kemungkinan arah baru yang ingin ditempuh Malaysia.

    Namun, merekrut pelatih dengan pengalaman Piala Dunia tidak otomatis menjamin tiket ke putaran final. Kualitas pemain, persiapan tim, konsistensi federasi, dan hasil pertandingan tetap menentukan perjalanan sebuah negara dalam kualifikasi.

    Hingga 16 Oktober 2026, publik masih harus menunggu keputusan resmi FAM. Untuk sementara, kemungkinan Moriyasu menangani Harimau Malaya tetap menjadi kabar yang menarik untuk diikuti, tetapi belum dapat disebut sebagai kepastian.

    Bagi Malaysia, tantangan berikutnya bukan hanya menemukan nama besar untuk mengisi kursi pelatih, melainkan menentukan sosok yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan tim dan mampu menjalankan program jangka panjang menuju 2030.

      Ikuti kami di Facebook