
INTRIK.ID, JAKARTA — Kinerja perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih menunjukkan pertumbuhan. Namun, kenaikan laba emiten belum menghilangkan persoalan transparansi pasar yang kini menjadi sorotan MSCI.
Pada semester I 2026, laba bersih seluruh perusahaan tercatat meningkat 16,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 tumbuh lebih tinggi, yakni 18,49 persen.
Data tersebut disampaikan BEI di tengah tekanan pasar saham Indonesia setelah MSCI Inc. pada 15 Oktober 2026 membuka konsultasi terkait usulan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Usulan itu belum menjadi keputusan final. Namun, persoalan yang mendasarinya menjadi tantangan bagi otoritas pasar modal, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham, aksesibilitas pasar, dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.
Direktur BEI Iding Pardi mengatakan pembenahan terus dilakukan untuk meningkatkan keterbukaan informasi dan kualitas data pasar modal.
“Kami terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi, memperkuat kualitas data, dan memastikan akses informasi yang lebih baik bagi investor. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen kami dalam menindaklanjuti perhatian MSCI terhadap pasar modal Indonesia,” ujar Iding, Minggu (18/10/2026).
Transparansi Jadi Pekerjaan Rumah