
Ternyata, kesempurnaan visual justru menciptakan jarak sosial yang membuat audiens merasa tidak aman atau rendah diri saat menontonnya. Namun sebaliknya, video yang menampilkan kamar berantakan atau wajah tanpa riasan membuat penonton merasa senasib sepenanggungan dengan sang kreator.
Selain itu, faktor kelelahan visual juga berperan besar dalam pergeseran selera penonton digital bukan hanya di Indonesia saja, namun merata secara global. Sebab, mata penonton sudah terlalu lelah dimanjakan oleh efek grafis canggih sehingga kesederhanaan menjadi oase baru yang menyejukkan.
Kemudian, algoritma platform video pendek seperti TikTok dan Reels juga cenderung memprioritaskan konten yang memicu interaksi tinggi dan diskusi natural. Sehingga, konten yang terlihat tidak sempurna atau biasa saja seringkali memancing komentar lebih banyak karena topiknya yang sangat membumi.