
Oleh: Rinda Restria
Kepulauan Bangka Belitung, terdiri dari Pulau Belitung (4.800 km2) dan 207 pulau kecil lainnya, terletak di lepas pantai timur Sumatra, di Selat Karimata meghubungkan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Di sebelah barat Belitung adalah Pulau Bangka (12.000 km persegi). Pulau-pulau ini adalah bagian dari provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bangka dan Belitung memiliki banyak tambang timah dan juga terkenal dengan produksi lada. Perikanan juga merupakan sumber pendapatan utama kedua pulau ini.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah penghasil timah terbesar di dunia. Pemerintah daerah Bangka Belitung, dengan kewenangan otonominya, telah mengeluarkan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2001 terkait pertambangan umum. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat Bangka untuk mengeksploitasi timah dengan bebas.
Dampak dari kebijakan ini mengakibatkan peningkatan pertambangan inkonvensional
semakin banyak. Sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem di Bangka Belitung. Kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh tambang timah ini berupa cekungan-cekungan bekas tambang, mengubah fungsi hidrologi sungai, punahnya keanekaragaman hayati dan berkurangnya vegetasi. Setelah daratan penuh dengan lubang pertambangan, para penambang timah ini akan membuka lahan pertambangan timah di wilayah pesisir, dan tambang tersebut telah merambah ke kawasan hutan mangrove dan kawasan hutan pantai.
Hilangnya hutan mangrove dan hutan pantai yang berkontribusi secara tidak proporsional terhadap emisi karbon, hilangnya keanekaragaman hayati dan meningkatnya kerentanan populasi pantai.
Mengingat banyaknya ekosistem yang telah rusak akibat pertambangan timah, kita sebagai masyarakat Kepulauan Bangka Belitung perlu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem. Di era digital saat ini, kita bisa memanfaatkan media sosial sebagai wadah untuk mengajak masyarakat ikut serta dalam pelestarian ekosistem terutama di Kepulauan Bangka Belitung. Berikut beberapa upaya untuk menyelamatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati di era disrupsi digital saat ini yaitu sebagai berikut:
Keputusan yang kita ambil dapat mempengaruhi orang lain. Dengarkan pendapat orang lain. Ambil perspektif mereka yang memberi anda wawasan dan cara pandang yang lebih baik terkait situasi dan konsekuensi dari keputusan anda.
Salah satu langkah pertama yang bisa diambil untuk menjaga keberadaan keanekaragaman hayati adalah dengan mencoba untuk mengenali, mempelajari dan mendata keanekaragaman hayati yang dimiliki Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan kemauan belajar tentang keanekaragaman hayati, kita sudah mengambil sikap bahwa kita ingin mengetahui kekayaan alam yang kita miliki, dan menghargai keberadaan sumber daya alam yang ada di sekitar kita dan tentunya itu merupakan suatu sikap bahwa kita menghargai kekayaan keanekaragaman hayati yang diberikan kepada kita sebagai masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Rusak atau hilangnya keanekaragaman hayati dapat mempengaruhi fungsi ekosistem dan mengganggu ekosistem. Hilangnya keanekaragaman hayati juga berarti kita kehilangan banyak bahan kimia alami dan gen alam, yang selama ini membawa manfaat kesehatan yang besar bagi umat manusia. Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam pemenuhan nutrisi manusia melalui pengaruhnya terhadap produksi pangan dunia, karena memastikan produktivitas tanah yang berkelanjutan dan menyediakan sumber daya genetik untuk semua tanaman, hewan, dan kehidupan laut yang dipanen untuk bahan pangan.
Keanekaragaman hayati berperan penting bagi kehidupan manusia, maka dari itu, kita khususnya generasi muda harus menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati agar tidak rusak atau menjadi punah, sehingga bisa dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya.