
Jika biaya produksi meningkat sementara daya beli masyarakat melemah, perusahaan bisa menghadapi dua persoalan sekaligus: biaya semakin mahal, tetapi kemampuan konsumen untuk membeli belum tentu ikut meningkat.
Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan dan membuat sebagian perusahaan menunda ekspansi atau investasi.
Pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh pelaku ekonomi.
Eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar, misalnya, berpotensi memperoleh nilai rupiah lebih besar ketika pendapatan valuta asing dikonversi.
Sektor pariwisata juga dapat memperoleh keuntungan dari sisi daya saing harga bagi wisatawan asing.
Namun, keuntungan tersebut tidak otomatis dinikmati semua eksportir. Perusahaan yang masih mengimpor bahan baku, membayar utang dolar, atau memiliki biaya operasional dalam valuta asing tetap menghadapi risiko.
Skenario dolar menembus Rp20.000 perlu dipahami sebagai simulasi untuk melihat seberapa besar tekanan yang mungkin muncul terhadap perekonomian, bukan kepastian bahwa nilai tukar akan mencapai angka tersebut.
Pelemahan rupiah juga tidak bisa dinilai hanya dari satu faktor. Pergerakan dolar global, arus modal asing, kondisi ekonomi domestik, neraca perdagangan, kebijakan suku bunga, hingga kepercayaan investor turut memengaruhi nilai tukar.
Karena itu, menjaga stabilitas rupiah bukan hanya tugas Bank Indonesia. Pemerintah juga perlu memastikan fundamental ekonomi tetap kuat, mengendalikan ketergantungan impor, menjaga pasokan pangan dan energi, serta meningkatkan kepercayaan pasar.
Sebab, ketika dolar semakin mahal, persoalannya bukan lagi sekadar berapa rupiah yang harus dibayar untuk membeli satu dolar.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: seberapa kuat daya tahan ekonomi Indonesia jika tekanan nilai tukar terus berlanjut?