
INTRIK.ID, JAKARTA — Nilai tukar rupiah yang terus berada di bawah tekanan memunculkan satu pertanyaan besar: bagaimana jika dolar Amerika Serikat benar-benar menembus Rp20.000?
Angka tersebut bukan sekadar persoalan nilai tukar di pasar keuangan. Jika pelemahan rupiah berlangsung tajam dan dalam waktu lama, dampaknya berpotensi merembet ke berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, biaya produksi industri, daya beli masyarakat, hingga beban pembayaran utang dalam valuta asing.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada Jumat, 30 Oktober 2026, tercatat Rp18.138 per dolar AS.
Jika dibandingkan dengan skenario Rp20.000, rupiah harus melemah sekitar 10,3 persen dari posisi tersebut.
Artinya, kebutuhan untuk membeli dolar akan semakin mahal. Dampaknya bisa dirasakan oleh pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat.
Salah satu dampak paling mudah dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang yang bergantung pada bahan baku impor.
Indonesia masih membutuhkan sejumlah komoditas dan bahan produksi dari luar negeri, seperti gandum, kedelai, bahan kimia industri, komponen elektronik, hingga mesin produksi.
Ketika dolar menguat terhadap rupiah, biaya pembelian barang-barang tersebut meningkat jika dihitung dalam mata uang domestik.
Kondisi ini dapat mendorong kenaikan biaya produksi. Jika perusahaan meneruskan tambahan biaya tersebut kepada konsumen, harga barang di pasaran berpotensi ikut naik.
Namun, kenaikan harga tidak otomatis terjadi pada seluruh barang. Besarnya dampak bergantung pada persediaan, kontrak pembelian, biaya distribusi, serta kemampuan perusahaan menyerap kenaikan biaya.
Masyarakat juga perlu memperhatikan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor pangan.
Indonesia mengimpor sejumlah bahan pangan, termasuk gandum dan kedelai. Ketika harga pembelian dalam dolar menjadi lebih mahal, biaya impor ikut meningkat.