
INTRIK.ID, BANGKA SELATAN — Di balik rimbunnya kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan, tersimpan jejak prasejarah dan kekayaan hayati yang kini mulai diangkat ke permukaan. Kawasan Bukit Nenek dan Bukit Batu Kepale, Desa Gudang, Kecamatan Simpang Rimba, perlahan diproyeksikan menjadi destinasi wisata edukasi berbasis konservasi dan geopark di Bangka Selatan.
Momentum itu terlihat dalam kegiatan bertajuk Pendidikan Konservasi dan Ekspedisi Geopark: Menelusuri Keanekaragaman Hayati dan Prasejarah Bukit Nenek Desa Gudang yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati 2026, Minggu (24/5/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah nyata kolaborasi berbagai komunitas, pegiat lingkungan, hingga instansi konservasi untuk mengenalkan kekayaan alam dan sejarah Bukit Nenek kepada generasi muda.
Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan, Pokdarwis Bukit Nenek Desa Gudang, Komunitas Kelekak Bangka, Green Leadership Indonesia, hingga berbagai komunitas pecinta alam lainnya.
Tak sekadar wisata alam biasa, peserta ekspedisi diajak menyusuri langsung kawasan Bukit Batu Kepale untuk melihat potensi keanekaragaman hayati, situs cadas, hingga jejak prasejarah yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.
Menariknya, sasaran utama kegiatan ini adalah generasi muda. Puluhan anggota Pramuka dari SMA Negeri 1 Simpang Rimba dan SMP Negeri 1 Simpang Rimba diajak belajar langsung di alam terbuka melalui edukasi konservasi, permainan interaktif, hingga pelatihan bertahan hidup sederhana di hutan.
Petugas Balai KSDA Sumatera Selatan Wilayah Pangkalpinang, Gandang Ardis, mengatakan kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran generasi muda agar lebih peduli terhadap lingkungan dan kekayaan alam daerahnya sendiri.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini saja, tapi bisa berjalan berkelanjutan. Kolaborasi yang sudah terjalin ini kami harap makin berkembang dengan dukungan lebih luas lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis Bukit Nenek Desa Gudang, Edo Sanjaya, menyebut kawasan Bukit Nenek memiliki potensi besar menjadi ikon wisata alam dan edukasi prasejarah di Bangka Belitung.
Menurutnya, pengembangan kawasan ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa melalui UMKM, jasa wisata, hingga lapangan pekerjaan.
“Kami ingin tempat ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda sekaligus penggerak ekonomi warga. Kehadiran wisata dan kegiatan edukasi ini nantinya diharapkan mampu mendukung kemajuan UMKM lokal,” ungkap Edo.
Dengan perpaduan panorama alam, jejak sejarah purba, dan semangat konservasi, Bukit Nenek kini perlahan mulai dipandang bukan sekadar kawasan hutan biasa, melainkan warisan alam Bangka Selatan yang menyimpan potensi besar untuk masa depan wisata edukasi berkelanjutan.(*)