
“Jadi, ini adalah miskomunikasi. Dan sayangnya, hari ini kami terlihat seperti orang bodoh,” ujarnya.
Miller menjelaskan, keputusannya masuk pit bukan tanpa pertimbangan. Ia melihat hujan mulai turun di beberapa tikungan yang menurut pengalamannya biasanya menjadi bagian pertama lintasan yang terkena hujan dari arah tersebut.
“Saya melihat lima atau enam tetes hujan di Tikungan 7 dan 8, kemudian di Tikungan 9 dan 10. Saya berpikir, putaran berikutnya lintasan akan basah,” jelasnya.
Ia memang mengetahui prediksi radar menunjukkan hujan kemungkinan datang lebih lambat. Namun, kondisi yang dilihat langsung di lintasan membuatnya memilih mengambil risiko.
“Kami berada di posisi ke-17 atau ke-18. Peluang mendapatkan poin memang kecil. Jadi, saya pikir keputusan itu layak dicoba,” katanya.
Miller awalnya mengira kru hanya perlu melepas penghangat ban sebelum motor bisa kembali digunakan.
Namun, situasi berbeda terlihat ketika ia mendapati mekanik masih mengerjakan bagian kaliper rem menggunakan alat khusus. Dari situ, ia menyadari bahwa penggantian ban saja bahkan belum selesai.
“Saya pikir kami hanya perlu melepas tyre warmer. Namun, ketika melihat impact gun pada kaliper bergerak ke arah yang salah, saya sadar bannya bahkan belum diganti,” ungkapnya.
Miller pun menyadari kesempatan untuk kembali ke lintasan semakin kecil. Ia akhirnya tidak melanjutkan Sprint Race.
Meski sempat meluapkan kemarahan, pebalap Australia tersebut mengaku sudah meminta maaf kepada kru Pramac atas reaksinya.