
“Saya meminta maaf atas reaksi saya. Namun, ketika tiba di pit lane, Anda masih berada dalam balapan. Dalam pikiran saya, saya tidak akan mengambil keputusan itu jika tidak merasa keputusan tersebut benar,” ujarnya.
Direktur Tim Prima Pramac Yamaha, Gino Borsoi, juga mengakui adanya kebingungan dalam persiapan motor kedua Miller.
Menurutnya, tim memang sedang menyiapkan motor untuk kondisi basah. Namun, motor tersebut diperkirakan baru siap satu putaran kemudian.
“Sayang sekali terjadi kebingungan terkait pit stop Jack. Kami sedang menyiapkan motor kedua untuk kondisi basah dan motor itu seharusnya siap satu putaran kemudian,” kata Borsoi.
Borsoi menilai keputusan Miller mengambil risiko terlalu cepat turut berkontribusi terhadap insiden tersebut. Namun, ia juga mengakui tim mungkin bisa menyiapkan motor sedikit lebih cepat.
“Ada sedikit terlalu banyak keinginan untuk mengambil risiko dari sisi Jack. Di sisi lain, kami juga mungkin bisa sedikit lebih cepat menyiapkan motor, meskipun tidak banyak lagi yang sebenarnya bisa kami lakukan,” jelasnya.
Keputusan Miller masuk pit lebih awal pada akhirnya tidak memberikan keuntungan. Hujan memang semakin deras, tetapi perubahan kondisi lintasan tidak berlangsung cukup cepat untuk menguntungkan para pebalap yang lebih dahulu beralih ke ban basah.
Sejumlah pebalap lain, seperti Joan Mir, Iker Lecuona, Franco Morbidelli, dan Maverick Viñales, juga mencoba strategi serupa.
Sebaliknya, pebalap yang bertahan menggunakan ban slick mampu mempertahankan keunggulan. Pedro Acosta akhirnya memenangi Sprint Race, diikuti Marc Marquez di posisi kedua dan Marco Bezzecchi di urutan ketiga.
Bagi Miller, akhir pekan di Sepang menyisakan persoalan yang lebih besar daripada sekadar kehilangan peluang meraih poin. Insiden tersebut memperlihatkan betapa pentingnya komunikasi antara pebalap dan kru ketika perubahan cuaca memaksa tim mengambil keputusan dalam hitungan detik.
Di MotoGP, keberanian membaca situasi memang bisa membuka peluang. Namun, tanpa kesiapan teknis dan koordinasi di garasi, strategi berani justru bisa berakhir sebelum pebalap kembali menyentuh lintasan.