Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bangka Belitung

Inflasi di Babel Terendah se-Indonesia, Mendagri Ingin Tahu ‘Resepnya’

207
×

Inflasi di Babel Terendah se-Indonesia, Mendagri Ingin Tahu ‘Resepnya’

Sebarkan artikel ini
IMG 20230227 WA0000

INTRIK ID, PANGKALPINANG – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai provinsi dengan angka terendah untuk pengendalian inflasi, yakni di bawah 5 persen.

Hal tersebut diungkapkan Mendagri, Tito Karnavian pada Rapat Koordinasi Pembahasan Langkah Konkret Pengendalian Inflasi di Daerah dalam rangka Pengendalian Inflasi Tahun 2023, secara Virtual, di Ruang Vidcon Gubernur Babel, Senin (27/2/23).

“Terima kasih banyak untuk Pak Ridwan Djamaluddin, hormat saya pak, Babel telah berapa kali bisa mempertahankan dengan baik angka 4,94 persen,” kata Mendagri.

Mantan Kapolri ini juga mengatakan bahwa angka inflasi di Kota Pangkalpinang juga dinilai rendah.

“Kota Pangkalpinang juga baik 4,68 persen. Sebetulnya kita ingin tahu resepnya, bagaimana Bangka Belitung bisa mengendalikannya,” ucapnya.

Sementara itu, Kabupaten Merauke sebagai Kabupaten dengan tingkat inflasi terendah di seluruh Indonesia, yakni 4,41 persen. Sedangkan provinsi dengan tingkat inflasi di atas rata-rata nasional 5,28 persen, adalah provinsi Bengkulu 6 persen yang rangkingnya turun sama dengan minggu sebelumnya, sedangkan Kota yang tertinggi tingkat inflasinya adalah Kota Bukit Tinggi dengan 7,17 persen, dan Kabupaten tertinggi adalah Kabupaten Banyumas 6,16 persen.

Dikatakannya, penyebab menurunnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) menurutnya adalah karena adanya suap pada perizinan ekspor impor, sistem politik yang membuka peluang terjadinya tindak pidana korupsi, berbelit-belit dan suap di bidang perizinan berusaha.

Untuk itu, hal tersebut menjadi kerja sama dan kolaborasi antar pemerintah pusat dan daerah, tidak bisa dikerjakan pusat sendiri, ataupun daerah sendiri.

Inflasi sendiri, dikatakannya, dipengaruhi oleh komponen penyumbang inflasi antara lain, inflasi barang jasa yang perkembangan harganya diatur pemerintah (administered prices), contoh tarif dasar listrik, bahan bakar minyak, tarif transportasi. Inflasi barang jasa yang perkembangan harganya sangat bergejolak (volatile foods), contoh ayam ras, cabai rawit, beras.

Secara umum, yang perlu diwaspadai dan menjadi prioritas adalah masalah beras, cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng.

“Kita perlu pendataan kembali, tiap-tiap daerah harus bottom up. Beras, cabai merah, bawang merah, kira-kira targetnya sesuai gak. Ada juga beberapa daerah yang variatif mengalami kenaikan yaitu telur ayam ras, bawang putih, dan ikan kembung,” jelasnya.

Hal-hal tersebut perlu menjadi intervensi dari pemerintah pusat melalui, badan pangan, kementerian perdagangan, kementerian pertanian, dan semua stakeholder BUMN terkait.

“Kemudian tolong setiap daerah bisa mengidentifikasi permasalahan di daerahnya masing-masing, terutama yang volatile foods atau barang-barang yang mudah berubah harganya karena mekanisme pasar,” pungkasnya.

Selain itu, dirinya mengimbau langkah-langkah gerakan tanam yang harus terus dilakukan. Kemudian distribusi minyak goreng, yang menjadi kunci adalah produksi dari pusat untuk meyakinkan produsen agar memproduksi sesuai dengan DMO, distribusi tepat sasaran dengan bekerjasama dengan daerah kepala dinas perdagangan, inspektorat, dan para penegak hukum. (*/red)

Home
Hot
Redaksi
Cari
Ke Atas