
Pembangunan sekolah dan perguruan tinggi tetap penting. Namun, kualitas pendidikan juga harus diukur dari kemampuan menghasilkan tenaga ahli, inovasi, riset yang dapat diterapkan, dan keterampilan yang dibutuhkan industri.
Ketika produktivitas meningkat, pekerja memiliki peluang menghasilkan barang dan jasa bernilai lebih tinggi. Hal itu menjadi salah satu fondasi bagi peningkatan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.
Tantangan Indonesia juga terlihat dalam konektivitas digital.
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Denny Setiawan, pada Juni 2026 menyebut sekitar 90 persen trafik internet Indonesia masih bergantung pada Singapura.
Angka tersebut perlu dipahami sesuai konteks pengukuran trafik yang dimaksud. Namun, pernyataan itu menyoroti persoalan strategis mengenai ketergantungan konektivitas internasional Indonesia terhadap salah satu pusat jaringan regional.
Singapura telah membangun ekosistem yang menghubungkan kabel bawah laut, pusat data, layanan komputasi awan, dan jaringan perusahaan teknologi global.
Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis dalam jalur kabel bawah laut, tetapi posisi tersebut belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai pusat konektivitas digital dengan peran ekonomi setara Singapura.
Karena itu, penguatan kabel bawah laut alternatif, pusat pertukaran internet domestik, pusat data, dan kapasitas jaringan internasional menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi digital.
Tujuannya bukan memutus koneksi dengan Singapura. Sebaliknya, Indonesia perlu memperluas pilihan rute, meningkatkan ketahanan jaringan, dan memperbesar nilai ekonomi yang dapat dihasilkan dari infrastrukturnya sendiri.
Membandingkan Indonesia dengan Singapura tidak berarti keduanya harus memiliki model pembangunan yang sama.
Singapura merupakan negara kota dengan wilayah dan jumlah penduduk jauh lebih kecil. Indonesia adalah negara kepulauan besar dengan tantangan pembangunan yang berbeda, termasuk pemerataan layanan publik, konektivitas antardaerah, dan penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
Namun, Indonesia dapat memetik sejumlah pelajaran: menjaga kepastian hukum, meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat kualitas pendidikan, mengembangkan industri bernilai tambah tinggi, dan memastikan infrastruktur strategis menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Indonesia tidak kekurangan modal berupa sumber daya alam, pasar, maupun lokasi geografis. Tantangannya terletak pada kemampuan mengubah semua potensi tersebut menjadi produktivitas dan daya saing.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa banyak tambang yang dimiliki, seberapa besar nilai ekspor, atau seberapa luas wilayah yang dikuasai.
Ukuran lainnya adalah seberapa tinggi nilai ekonomi yang dihasilkan, seberapa produktif tenaga kerjanya, seberapa efisien sistemnya, dan seberapa besar manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat.
Indonesia memiliki kekayaan yang besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kekayaan itu tidak berhenti sebagai potensi, tetapi berubah menjadi nilai tambah, kekuatan industri, dan kesejahteraan.