
Perbedaan efisiensi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi daya saing produk Indonesia.
Indonesia memiliki batu bara, nikel, timah, tembaga, minyak, gas, dan berbagai komoditas lainnya.
Namun, kekayaan sumber daya alam baru memberikan manfaat ekonomi maksimal apabila didukung kemampuan pengolahan, teknologi, riset, tenaga ahli, dan industri hilir yang kompetitif.
Menjual bahan mentah dapat menghasilkan pendapatan. Akan tetapi, membangun rantai industri dari pengolahan hingga menghasilkan produk akhir berpotensi menciptakan nilai tambah lebih besar.
Persoalannya, hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik di dalam negeri. Industri juga perlu menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar global, mengembangkan teknologi sendiri, meningkatkan keterampilan pekerja, dan membangun jaringan pemasok lokal.
Jika tidak, Indonesia berisiko hanya menjadi lokasi produksi, sementara sebagian besar nilai tambah dari teknologi, desain, pembiayaan, dan pemasaran tetap dikuasai pihak lain.
Di sinilah pekerjaan rumah industri nasional: memastikan kekayaan alam tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperluas kemampuan teknologi dan kesejahteraan masyarakat.
Kemajuan ekonomi juga berkaitan dengan kualitas institusi dan kepercayaan pelaku usaha.
Perusahaan yang ingin berinvestasi jangka panjang membutuhkan kepastian hukum, peraturan yang konsisten, proses perizinan yang jelas, serta mekanisme penyelesaian sengketa yang dapat diandalkan.
Singapura dikenal memiliki lingkungan bisnis yang relatif dapat diprediksi. Hal itu menjadi salah satu faktor yang mendukung perannya sebagai pusat perdagangan dan keuangan internasional.
Indonesia juga terus menarik investasi, tetapi konsistensi regulasi, tata kelola, dan kepastian hukum masih menjadi area yang perlu diperkuat.
Dalam laporan-laporannya mengenai perekonomian Indonesia, Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti pentingnya perbaikan tata kelola dan institusi untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Bagi investor, persoalannya bukan hanya seberapa besar potensi keuntungan, melainkan juga seberapa besar risiko dan ketidakpastian yang harus dihadapi.
Karena itu, membangun kepercayaan terhadap institusi sama pentingnya dengan menyediakan lahan, infrastruktur, dan insentif investasi.
Faktor lain yang membedakan kedua negara adalah kemampuan membangun sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi.
Singapura mengembangkan pendidikan, pelatihan keterampilan, dan program peningkatan kompetensi tenaga kerja agar dapat mengikuti perubahan kebutuhan industri.
Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, menyelaraskan keterampilan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja, serta memperluas produktivitas tenaga kerja.