
INTRIK.ID BANGKA TENGAH– Kecamatan Koba dan Pangkalan Baru menjadi kecamatan paling banyak ditemukan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bangka Tengah ini. Data data yang ada saja, Koba menjadi peringkat teratas dengan jumlah kasus 8 kasus dan disusul Pangkalan Baru 6 kasus.
Bahkan, dari data yang ada, Koba menjadi penyumbang HIV/AIDS lantaran diduga banyak penyimpangan seksual yang terjadi di Kecamatan Koba. Mulai dari kaum LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual and Transgender) sampe banyaknya pria suka jajan.
Namun, hal ini dibantah oleh Kepala Dinas Kesehatan Bangka Tengah (Dinkes Bateng) Zaitun. Menurutnya, banyaknya kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Koba dan Pangkalan Baru karena sudah mulai sadarnya masyarakat untuk skrining kesehatan.
“Mengapa Koba dan Pangakaln Baru banyak ditemukan kasus HIV/AIDS ya karen 2 kecamatan ini gencar lakukan skirining. Sedangkan Simpang Katis Namang, Lubuk Besar dan Sungai Selan masih banyak yang kita belum skrining,” jelasnya, Kamis (5/3/2026).
Dirinya menegaskan, Virus HIV/AIDS adalah fenomena gunung es. Yang artinya jika masyarakat belum sadar kesehatan dan tidak melakukan skrining awal, maka akan banyak oramg-orang terjangkit virus tersebut.
“Gejala HIV/AIDS ini gak signifikan langsung ada. Tapi bertahap. Cuma kadang orang gak tau. Dia udah terkena, terus melakukan hubungan suami istri. Mending istri 1 , kalau 3 gimana. Terus ada anak anaknya kena juga. Padahal skrining awal bisa mencegah penularan. Dan kalau konsultasi awal HIV/AIDS bisa kita tidak turunkan kepada anak dalam kandungan, ” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, kecamatan yang sedikit ditemukan kasus HIV/AIDS bukan berarti kecamatannya aman atau baik. Hanya saja, belum dilakukan skrining menyeluruh karena kesadaran masyarakatnya kurang.
“Kita gak bisa memaksa orang untuk lakukan sktining. Makannya itu harus dilakukan secara sukarela. Kita gak bisa judge daerah ini baik atau buruk hanya kares kasus HIV/AIDS. Jadi tidak bisa patokan itu dan tidak bisa patokan kasus HIV. Semua daerah bagus, baik dan juga pastinya gak ada yang mau sakit, ” ungkapnya.
Kepala Dinas yang berdomisili di Berok itu menegaskan, seluruh proses skrining dan pengobatan HIV/AIDS bisa dilakukan di puskesmas terdekat tanpa biaya dan ditangan dengan teknis petugas kesehatan dengan baik serta memadai.
“Penangan HIV di Bangka Tengah masih jadi program prioritas kita. Terbukti dengan kami selalu mengedukasi masyarakat menggunakan media informasi dari sosial ataupun media masa,” ujarnya.
Saat ditanya kendala, Kepala Dinkes itu menyatakan, jika skirining HIV/AIDS sulit dilakukan lantaran banyak yang mengira jika tetkena penyakit tersebut akan didiskriminasi dan dikucilkan sebagai aib. Beberapa orang bahkan tidak siap dengan hasil skrining HIV/AIDS.
“Stigma masyarakat ini buat penderita HIV/AIDS susah. Termasuk masyarakat jadi takut. Harusnya kita saling dukung dan bantu. Kita harus sdara, jangan sampai penyakit ini menular ke anak dan istri kita. Bahkan orang terdekat kita lainnya. Makannya mati skrining HIV/AIDS, ” tuturnya.