Herri Pras: Dari Pesilat, Pendiri Perguruan Silat hingga YouTuber dengan 1,5 Juta Subscriber

    Caption: Herri Pras.

    INTRIK.ID, JAKARTA – Nama Herri Pras mendadak menjadi perhatian publik setelah polemik yang menyeret namanya dengan sejumlah tokoh agama, termasuk Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).

    Namun, di balik kontroversi tersebut, Herri Pras bukan sosok yang baru muncul di dunia digital. Ia memiliki perjalanan panjang di dunia bela diri, bahkan mendirikan perguruan pencak silat sendiri sebelum dikenal sebagai kreator konten dengan jutaan pelanggan di YouTube.

    Lantas, siapa sebenarnya Herri Pras?

    Belajar Silat Sejak Usia Delapan Tahun

    Herri Pras diketahui memiliki nama Heri Prasetiawan. Ia dikenal berasal dari Jember, Jawa Timur, dan memiliki ketertarikan terhadap seni bela diri sejak masih kecil.

    Mengutip sejumlah pemberitaan yang merujuk pada profil perguruannya, Herri mulai mempelajari pencak silat tradisional ketika berusia sekitar delapan tahun.

    Pengetahuan awalnya diperoleh melalui lingkungan keluarga, terutama dari kakak dan pamannya yang mengenalkan seni bela diri tersebut.

    Seiring bertambahnya usia, Herri memperluas pengalaman dengan mempelajari sejumlah aliran dan disiplin bela diri.

    Di antaranya Tapak Suci, Taekwondo, Capoeira Akrobatik, Extreme Martial Arts Tricking, Pencak Silat Gerak Binatang (PSGB), hingga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

    Pengalaman mempelajari berbagai aliran tersebut kemudian menjadi bekal bagi Herri untuk mengembangkan perguruan bela diri sendiri.

    Mendirikan Pencak Silat Garuda Indonesia pada 2017

    Salah satu perjalanan penting dalam kehidupan Herri Pras adalah mendirikan Perguruan Pencak Silat Garuda Indonesia (PSGI).

    Berdasarkan informasi dari profil organisasi tersebut, PSGI didirikan pada 13 Januari 2017 di Jember, Jawa Timur.

    Herri menempati posisi sebagai pendiri sekaligus Guru Besar perguruan tersebut.

    Keputusan mendirikan perguruan sendiri menjadi langkah tersendiri dalam perjalanan bela dirinya. Ia mengembangkan latihan dengan memadukan pengalaman dari sejumlah disiplin yang pernah dipelajarinya.

    Sejak saat itu, namanya tidak hanya dikenal sebagai praktisi pencak silat, tetapi juga sebagai sosok yang membangun wadah pelatihan bela diri.

    Pada Januari 2021, Herri bahkan pernah tampil dalam program Sportcast MMA tvOne. Dalam kesempatan tersebut, ia membicarakan perjalanan karier, terbentuknya PSGI, serta pandangannya mengenai pencak silat tradisional dan modern.

    Kanal YouTube Tembus 1,5 Juta Subscriber

    Popularitas Herri Pras kemudian berkembang melalui platform digital.

    Ia membangun kanal YouTube bernama HERRI PRAS dengan nama pengguna @herripras. Kanal tersebut tercatat bergabung dengan YouTube pada 25 Maret 2019.

    Berdasarkan data Social Blade yang diperbarui hingga 1 November 2026, kanal tersebut memiliki sekitar 1,57 juta subscriber, lebih dari 370 juta penayangan, dan sekitar 3.042 video.

    Angka tersebut memperlihatkan bahwa Herri berhasil membangun basis penonton yang cukup besar di dunia digital.

    Pada awalnya, konten yang ditampilkan banyak berkaitan dengan dunia pencak silat, teknik bela diri, serta aktivitas perguruan PSGI.

    Namun, seiring perkembangan kanalnya, tema konten Herri semakin beragam.

    Ia mulai aktif membahas persoalan sosial, keagamaan, organisasi masyarakat, hingga memberikan tanggapan terhadap sejumlah tokoh publik.

    Perubahan tema tersebut membuat jangkauan pembahasannya semakin luas, tetapi juga membuka ruang perdebatan dengan berbagai kalangan.

    Pernah Terlibat Sejumlah Kontroversi

    Polemik yang melibatkan Herri Pras sebenarnya bukan kali pertama terjadi.

    Pada 2023, namanya pernah menjadi perhatian setelah komentarnya mengenai aktivitas di lingkungan majelis Sabilu Taubah yang diasuh Gus Iqdam menuai tanggapan publik. Ia kemudian menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf melalui kanal YouTube miliknya.

    Namanya juga pernah dikaitkan dengan polemik mengenai Al-Zaytun setelah adanya laporan dari pihak wali santri ke Polda Banten.

    Pada 2026, ia kembali menjadi perbincangan setelah muncul persoalan mengenai klaim hubungan keilmuan dengan Syekh Ahmad Al-Misry. Syekh Ahmad Al-Misry kemudian memberikan klarifikasi mengenai hubungan tersebut.

    Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa aktivitas Herri di dunia digital tidak hanya berkutat pada bela diri, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang penyampaian pandangan dan kritik terhadap berbagai persoalan keagamaan.

    Dari Dunia Persilatan ke Panggung Kontroversi Digital

    Perjalanan Herri Pras memperlihatkan perubahan aktivitas yang cukup menarik.

    Berawal dari ketertarikan terhadap pencak silat sejak kecil, ia kemudian mendirikan perguruan sendiri dan membangun popularitas melalui YouTube.

    Kini, namanya dikenal bukan hanya di kalangan penggemar bela diri, tetapi juga masyarakat yang mengikuti perdebatan isu keagamaan di media sosial.

    Popularitas digital memang memberikan ruang lebih luas bagi seseorang untuk menyampaikan pendapat. Namun, semakin besar jangkauan audiens, semakin besar pula tanggung jawab dalam menyampaikan kritik dan menjaga etika komunikasi di ruang publik.

    Pada akhirnya, perjalanan Herri Pras menjadi gambaran bagaimana seorang praktisi bela diri dapat berkembang menjadi kreator konten dengan jutaan pengikut, sekaligus menghadapi konsekuensi dari setiap pernyataan yang disampaikan di ruang digital.

      Ikuti kami di Facebook