
”Jadi pola lama kita tinggalkan. Tidak ada lagi petugas yang membawa tumpukan karcis manual atau menerima uang tunai dari pedagang. Semua cukup dengan menempelkan kartu ke alat yang dipegang petugas,” ujar Andika Saputra.
Lebih lanjut, Andika menekankan bahwa urgensi dari digitalisasi ini bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan untuk memperkuat akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Dengan sistem non-tunai, setiap rupiah yang dibayarkan oleh pedagang langsung terekam dalam sistem secara real-time.
”Harapan kita tentu efisiensi. Dengan digitalisasi, kita meminimalisasi potensi kebocoran pendapatan daerah. Semua jadi lebih transparan, akuntabel, dan terpantau langsung,” tegasnya.