Gubernur Kaltim Sarapan di Hotel Singapura Saat Karhutla Meluas, Warga Bergelut dengan Asap

    Caption: Foto gubernur Kaltim saat sarapan di hotel mewah Singapura.

    INTRIK.ID, SAMARINDA — Ketika warga Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), foto Gubernur Rudy Mas’ud saat sarapan di hotel mewah di Singapura justru memicu sorotan publik.

    Foto yang beredar di media sosial itu memperlihatkan Rudy berada di sebuah meja makan di Singapura. Warganet kemudian mengaitkan keberadaan gubernur di luar negeri dengan kondisi Kaltim yang masih berjibaku dengan karhutla dan kabut asap.

    Kontroversi tersebut muncul ketika persoalan kualitas udara belum sepenuhnya teratasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat hingga 8 Oktober 2026, luas lahan terbakar mencapai sekitar 8.471,98 hektare. Pada saat yang sama, kualitas udara PM2.5 tercatat dalam kategori tidak sehat.

    Situasi ini membuat perjalanan kepala daerah menjadi perhatian, terutama karena dampak karhutla bukan hanya soal lahan yang terbakar, melainkan juga kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari.

    Pemprov: Bukan Menonton F1, tetapi Pemeriksaan Kesehatan

    Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Ririn Sari Dewi, membenarkan Rudy melakukan perjalanan ke Singapura pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Namun, ia membantah narasi yang mengaitkan perjalanan tersebut dengan agenda menonton Formula 1 (F1).

    “Benar, bapak medical check-up di Singapura. Biaya pakai dana pribadi, bukan APBD,” kata Ririn, sebagaimana dikutip SuaraKaltim, Senin (12/10/2026).

    Ririn menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dilakukan di Mount Elizabeth Hospital. Menurutnya, agenda tersebut dijadwalkan pada akhir pekan agar tidak mengganggu kegiatan pemerintahan maupun pelayanan publik.

    Ia juga menyebut perjalanan tersebut telah memperoleh persetujuan lisan dari Menteri Dalam Negeri. Permohonan tertulis, kata dia, disampaikan secara paralel karena keberangkatan berlangsung pada akhir pekan.

    Terkait foto yang beredar, Ririn membenarkan bahwa gambar itu diambil saat Rudy sedang sarapan di hotel pada Minggu pagi.

    “Iya, pas sarapan Minggu pagi, nginap di hotel terus langsung balik Jakarta,” jelasnya kepada detikcom.

    Dengan demikian, berdasarkan keterangan Pemprov Kaltim, keberadaan Rudy di Singapura berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan. Belum ada bukti terverifikasi yang memastikan ia pergi ke sana untuk menonton balapan F1.

    Karhutla Belum Selesai, Kualitas Udara Mengkhawatirkan

    Di tengah polemik tersebut, data BPBD Kaltim menunjukkan persoalan karhutla masih membutuhkan penanganan serius.

    Dalam laporan 8 Oktober 2026, BPBD mencatat 890 titik panas, 20 titik kebakaran yang ditangani pada hari itu, serta total luas lahan terbakar sekitar 8.471,98 hektare. Penanganan melibatkan ribuan personel lintas sektor.

    Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan tidak melakukan pembakaran lahan.

    Gubernur Rudy sendiri sebelumnya mengakui penanganan karhutla di Kaltim belum selesai. Dalam rapat koordinasi pada 7 Oktober, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan yang lebih terintegrasi.

    “Karena itu, penanganan karhutla harus lebih preventif dan terintegrasi. Begitu hotspot meningkat, patroli dan pencegahan harus bergerak,” tegas Rudy, dikutip dari laman resmi Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim.

    Pernyataan itu menegaskan bahwa pemerintah daerah menyadari penanganan karhutla masih menjadi pekerjaan rumah. Tantangannya adalah memastikan arahan tersebut berjalan efektif di lapangan, sementara masyarakat membutuhkan perlindungan dari dampak asap.

    Publik Menunggu Hasil Nyata Penanganan Karhutla

    Perjalanan untuk pemeriksaan kesehatan merupakan urusan yang dapat dijalani seorang kepala daerah. Namun, ketika daerah yang dipimpinnya menghadapi persoalan lingkungan, perhatian publik juga tertuju pada efektivitas respons pemerintah dan komunikasi kepada masyarakat.

    Pemprov Kaltim menyatakan perjalanan tersebut menggunakan dana pribadi dan telah dikomunikasikan kepada pemerintah pusat. Meski begitu, penjelasan mengenai perjalanan itu tidak serta-merta mengakhiri persoalan utama yang dihadapi warga, yakni karhutla dan kualitas udara.

    Di tengah situasi tersebut, masyarakat membutuhkan langkah konkret berupa pemadaman yang efektif, pencegahan kebakaran berulang, informasi kualitas udara yang mudah diakses, serta perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan.

    Pada akhirnya, polemik perjalanan Rudy Mas’ud bukan hanya soal foto sarapan di hotel Singapura. Peristiwa ini juga menyoroti besarnya harapan masyarakat terhadap pemimpin daerah ketika warganya sedang menghadapi krisis.

    Sebab, ketika warga harus membatasi aktivitas akibat asap, keberhasilan pemerintah akan dinilai dari seberapa nyata penanganan karhutla dilakukan dan seberapa cepat dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dapat dikurangi.

      Ikuti kami di Facebook