
Namun, Vivian tidak membuka secara terperinci apa saja yang dibicarakan dengan Prabowo.
Ia menegaskan bahwa kedua pihak kini perlu menjalankan rencana dan merealisasikan komitmen yang telah dibangun.
Pernyataan tersebut belum dapat diartikan sebagai kesepakatan baru mengenai pemulihan volume ekspor gas, perubahan kontrak energi, ataupun penyelesaian seluruh persoalan kabut asap.
Sampai keterangan yang tersedia pada Rabu malam, belum ada rincian resmi mengenai keputusan spesifik yang dihasilkan dari pertemuan tertutup di Hambalang.
Kedatangan Vivian memperlihatkan pentingnya komunikasi langsung ketika kepentingan dua negara bertemu dalam situasi yang sensitif.
Singapura membutuhkan kepastian pasokan energi dan penanganan kabut asap. Indonesia, di sisi lain, memiliki kepentingan untuk mengamankan kebutuhan domestik serta menentukan kebijakan pengelolaan sumber dayanya.
Kedua kepentingan itu tidak selalu berjalan searah. Karena itu, perundingan menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik diplomatik yang lebih luas.
Vivian sendiri mengakui bahwa perbedaan prioritas dan pendekatan merupakan hal yang wajar di antara negara-negara bertetangga. Ia menyerukan agar kedua pihak tetap berkepala dingin dan mencari penyelesaian yang konstruktif.
Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar siapa bertemu siapa, melainkan apakah pertemuan tersebut mampu menghasilkan langkah konkret.
Bagi Indonesia, ukuran keberhasilannya adalah kemampuan mempertahankan kepentingan energi nasional sekaligus menjaga hubungan bilateral. Bagi Singapura, kepastian pasokan dan penanganan dampak kabut asap tetap menjadi persoalan penting.
Pertemuan di Hambalang telah berlangsung. Namun, jawaban atas persoalan gas dan kabut asap masih menunggu tindak lanjut.