
INTRIK.ID, BANGKA TENGAH — Warga Kecamatan Koba, Bangka Tengah keluhkan sulitnya mendapatkan gas LPG 3 Kg. Kelangkaan gas bersubsidi ini sudah dirasakan warga sekitar 2 minggu terakhir.
Tina (45) misalnya, ia mengaku harus meminjam gas tetangga hanya untuk memasak.
“Saya ada stok alhamdulillah untuk goreng-goreng kue, tapi untuk masak saya minjem gas tetangga yang memang pakai 12 Kg. Takut nanti lama gasnya ada. Gak jualan saya gak makan, ” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Penjual kue kering itu juga sudah mencari gas tersebut di beberapa tempat bahkan di kecamatan lain namun tetap tidak ada yang jual.
“Saya tanya keluarga di luar Koba juga tidak ada, di Lubuk atau di luar Bangka Tengah susah. Mau gak mau beli yang 12 Kg tapi biaya produksi membengkak. Cuma kalau baru sekarang mau beli, jujur kami pedagang kecil memang tidak mampu, ” tegasnya.
“Harga 30 ribu pun kami beli kalau ada gas 3 Kg. Masalahnya di pangkalan saja gak ada. Beli yang 12 Kg mahal banget, ” lanjutnya.
Hal yang sama juga dikeluhkan Putri (42) ibu rumah tangga asal Sungai Selan itu mengeluh harus minjem gas tetangga yang 12 Kg yang kosong karena tak mampu jika harus membeli tabung baru.
“Susah gas sekarang. Untung tetangga saya baik minjemin tabung 12 Kg. Beli gas 12 Kg dengan penghasilan kami harus jadi hemat-hemat banget. Ditambah kalau harus beli tabung belum mampu, ” ujarnya.
Menjawab hal tersebut, Kepala Disperindagkop-UMKM Bangka Tengah Irwandi mengungkapkan, kelangkaan gas terjadi karena adanya cuaca buruk.
“Berdasarkan informasi resmi dari Pertamina melalui SPBE dan agen, kapal pengangkut LPG dari Palembang menuju Bangka sempat tidak bisa beroperasi karena cuaca buruk. Inilah yang memicu terhambatnya pasokan yang sudah terjadi bahkan 3 pekan, ” jelasnya.
Kepala dinas yang disapa Beben itu menyebutkan, jika agen sudah mulai menyalurkan stok kembali dan diperkirakan satu hingga dua hari ke depan pasokan akan stabil.
“Untuk kuota sendiri tidak ada perubahan, tetap sesuai dengan Loading Order (LO) dari pangkalan ke agen. Jadi agak sabar sedikit, ” ujarnya.
“Kami sudah mengecek ke tingkat distributor dan saat ini tim sedang turun ke lapangan untuk memantau harga serta memastikan tidak ada praktik penimbunan. Kami akan terus mengawal hingga distribusi benar-benar lancar, ” tukasnya.