Scroll untuk baca artikel
Bangka Tengah

Forlabb Tanyakan Kerjasama Pemkab Bangka Tengah dengan PT Thorcon

247
×

Forlabb Tanyakan Kerjasama Pemkab Bangka Tengah dengan PT Thorcon

Sebarkan artikel ini
IMG 20231127 094059 107
Foto: Audiensi Forlabb dengan Bupati Bangka Tengah. (Intrik)

INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Belasan orang yang tergabung dalam Forum Laskar Bangka Belitung (Forlabb) mendatangi kantor Bupati Bangka Tengah, Senin (27/11/2023).

Kedatangan rombongan tersebut berkaitan dengan adanya kerjasama antara Pemkab Bangka Tengah dengan PT Thorcon dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTG) di Pulau Gelasa, Bangka Tengah.

Juru Bicara Forlabb, Syahrial mengatakan dalam kerjasama ini tidak diketahui oleh pihak DPRD dan memiliki kekuatan hukum yang kuat.

“Pulau Gelasa ini merupakan daerah konservasi nasional yang RTRW nya sudah disetujui sebagai objek wisata, tapi kerjasama ini tidak merubah RTRW. Untuk merubah RTRW hanya bisa dilakukan dengan sifat non substansi dan harus dengan kajian komprehensif,” ucapnya kepada intrik.id, Senin (27/11/2023).

Ia menyebutkan ada beberapa tahapan yang dilewati oleh kedua pihak sehingga pulau Gelasa tidak sesuai dengan fungsi tata ruang.

“Pemerintah melakukan ikatan (kerjasama) dengan pihak ketiga tanpa melihat fungsi dari Pulau Gelasa. Ini kan jadi pertanyaan besar sebenarnya,” ujar Syahrial.

Syahrial juga menyebutkan, kepedulian saat ini dibutuhkan semua pihak dengan aksi nyata dan bukan sekedar tulisan di sosial media dengan mengedepankan asas musyawarah dengan juga mengingatkan kan bupati hati-hati dalam membuat sebuah kebijakan yang akan merugikan rakyat Bangka Tengah ini.

“Melalui Forlabb ini kami ingatkan pak bupati untuk hati-hati membuat kebijakan. Kami mengajak semua pihak untuk memantau dan memonitor hal ini. Dan kami akan melakukan audiensi dengan pihak DPRD Bangka Tengah terkait masalah ini, ” tutupnya.

Sementara itu, Feriyandi mengatakan belum ada negara yang menggunakan Thorium sebagai bahan energi listrik komersil.

“Thorium ini baru sebatas untuk study dan penelitian, belum ada negara yang menggunakannya untuk listrik komersil. Jika nuklir, baru ada tapi kita belum menyetujui karena perlu ada kajian lagi,” tegas pria yang akrab disala Komeng itu.