
Selain itu, tim harus menyiapkan bukti pendukung berupa saksi dan rekaman video yang jelas, serta uang protes sebesar Rp5 juta.
Persoalannya, tim Bangka mengaku belum memiliki rekaman resmi pertandingan untuk memastikan kejadian tersebut. Mereka kemudian meminta bantuan Liaison Officer (LO) agar bisa mendapatkan video resmi yang dinilai lebih objektif.
Namun, menurut pengakuan Sigit, permintaan tersebut tidak dipenuhi dengan alasan rekaman tidak diperbolehkan diberikan kepada tim lawan.
“Kami minta video resmi kepada LO karena tidak ingin hanya mengandalkan rekaman amatir yang belum tentu jelas. Tetapi video itu tidak diberikan. Sementara waktu protes hanya lima menit,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat tim berada dalam dilema. Di satu sisi, mereka ingin memperjuangkan keberatan atas keputusan wasit. Di sisi lain, waktu untuk mengumpulkan bukti dan menyiapkan administrasi terus berjalan.
Hingga proses persiapan dilakukan, batas waktu pengajuan protes disebut telah terlewati. Tim akhirnya memilih tidak melanjutkan protes karena khawatir uang Rp5 juta hangus, sementara hasil pertandingan belum tentu berubah.
Sempat Memanas, Pelatih Redam Emosi Atlet
Sigit mengakui situasi tersebut sempat memancing emosi para pemain dan ofisial. Bahkan, sejumlah atlet disebut sempat turun dari area pertandingan karena tidak puas dengan keputusan yang terjadi.