
Tiara Salsabilla Satmadiah
Mahasiswi Akuntansi Universitas Bangka Belitung
Dalam satu dekade terakhir, perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam cara masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal konsumsi. Kemunculan e-commerce (perdagangan elektronik) dan e-wallet (dompet digital) telah mengubah wajah transaksi ekonomi, menawarkan kemudahan, efisiensi, dan kenyamanan. Namun di balik berbagai kelebihannya, teknologi ini juga membawa dampak negatif, terutama bagi Generasi Z—kelompok usia muda yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital.
Generasi Z, atau mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga awal 2010-an, merupakan generasi yang sangat adaptif terhadap teknologi. Menurut laporan dari We Are Social dan Hootsuite tahun 2023, sekitar 89% Gen Z di Indonesia menggunakan internet setiap hari, dan lebih dari 75% di antaranya aktif berbelanja online minimal satu kali dalam sebulan. E-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada menjadi platform favorit karena menyediakan ribuan produk dengan berbagai promo menarik.
Keberadaan e-wallet seperti OVO, GoPay, DANA, dan ShopeePay turut mempercepat laju konsumsi digital. Studi yang dilakukan oleh Katadata Insight Center (KIC) dan OJK pada 2022 menyebutkan bahwa 53,2% pengguna e-wallet di Indonesia berasal dari kelompok usia 15–29 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa Gen Z merupakan pengguna utama dompet digital yang memungkinkan mereka melakukan transaksi tanpa perlu membawa uang tunai atau kartu fisik.
Masalahnya, kemudahan ini kerap membuat Gen Z terjebak dalam perilaku konsumtif. Transaksi digital yang cepat dan tanpa hambatan menciptakan ilusi bahwa pengeluaran itu “tidak terasa”. Tidak seperti ketika menggunakan uang tunai—di mana proses memberikan uang secara fisik menimbulkan kesan kehilangan—e-wallet membuat transaksi terasa ringan dan instan. Dalam jangka panjang, ini bisa menurunkan kesadaran akan pentingnya mengatur keuangan.