
Salah satu faktor yang memperburuk situasi adalah masifnya kampanye promosi e-commerce. Flash sale, diskon besar-besaran, cashback, dan gratis ongkir menjadi taktik pemasaran yang sangat efektif. Gen Z yang sering menggunakan media sosial, seperti TikTok dan Instagram, juga terpapar tren belanja seperti “haul”, “unboxing”, dan rekomendasi barang viral. Akibatnya, banyak dari mereka membeli produk bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal atau ingin terlihat mengikuti tren.
Fenomena ini telah dikonfirmasi oleh hasil survei Populix tahun 2023, yang menyatakan bahwa 62% responden Gen Z mengaku membeli barang secara impulsif saat ada promo, meski tidak sedang membutuhkannya. Lebih dari 40% di antaranya mengaku menyesal setelah membeli barang tersebut. Hal ini menunjukkan rendahnya kontrol diri dan kurangnya perencanaan keuangan dalam pengambilan keputusan konsumsi.
Bahaya lainnya adalah tumbuhnya kebiasaan “paylater” atau beli sekarang bayar nanti. Fitur ini disediakan oleh banyak platform e-commerce dan dompet digital, menawarkan opsi cicilan tanpa kartu kredit. Meski terlihat menguntungkan, sistem ini seringkali memicu utang yang tidak sehat, terutama bagi mereka yang belum memiliki penghasilan tetap. Survei dari Jakpat pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 31% pengguna fitur paylater di Indonesia adalah Gen Z, dan 27% di antaranya mengaku pernah telat membayar tagihan.
Tanpa literasi keuangan yang memadai, perilaku ini dapat memicu krisis keuangan pribadi sejak usia muda. Literasi keuangan di Indonesia sendiri masih tergolong rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68%, dan kelompok usia muda merupakan salah satu yang paling rendah. Hal ini memperburuk kondisi, karena kelompok yang paling aktif bertransaksi secara digital justru paling minim pemahaman tentang risiko keuangan.
Dampak jangka panjang dari pola konsumsi semacam ini tidak bisa diremehkan. Jika terus berlanjut, Gen Z akan menghadapi kesulitan dalam menabung, berinvestasi, dan mempersiapkan masa depan finansial mereka. Selain itu, pola konsumtif yang tinggi berpotensi menciptakan tekanan mental, seperti stres akibat utang atau penyesalan pasca pembelian, yang juga bisa berdampak pada kesehatan mental.