
“Bisa dibilang semuanya dimulai dari nol. PT Timah yang mengumpulkan kami, ibu-ibu yang memiliki kemampuan menjahit, kemudian diberikan ruang untuk berkembang bersama membangun Batik Kundur,” katanya.
Farhida menjelaskan, sebelum mulai memproduksi batik secara mandiri, para anggota mendapatkan pelatihan dasar membatik. Pada tahun 2025, mereka kembali memperoleh pelatihan intensif yang difasilitasi PT Timah untuk meningkatkan kemampuan teknis dan kreativitas para pengrajin.
“Kami mendapat pelatihan selama tiga hari dan itu sangat membantu. Sebelumnya juga pernah belajar dari rekan-rekan di Karimun, sehingga sekarang kami bisa mulai mengembangkan batik khas daerah sendiri,” ujarnya.
Yang menarik, batik yang dikembangkan Rumah Batik Kundur tidak sekadar menghadirkan motif umum. Para pengrajin berupaya mengangkat berbagai unsur lokal yang menjadi ciri khas Pulau Kundur.
Mulai dari motif siput khas yang menjadi bahan makanan tradisional lendot, dedaunan lokal, bunga-bunga yang tumbuh di sekitar pulau, hingga bentuk geografis Pulau Kundur sendiri.
“Kami punya motif siput khas Kundur, kemudian daun dan bunga lokal yang kami kombinasikan menjadi motif batik. Ada juga motif yang menceritakan tentang Pulau Kundur,” jelas Farhida.
Saat ini, kelompok tersebut masih fokus mengembangkan batik ecoprint, yaitu teknik pembuatan motif menggunakan bahan alami berupa daun-daunan yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar.
Konsep ini dipilih karena dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mampu menampilkan karakter alam Kundur secara autentik.
“Daun-daun yang ada di sekitar kami kumpulkan dan diolah menjadi motif ecoprint. Karena masih baru, kami fokus memperkuat identitas ecoprint terlebih dahulu,” katanya.
Bagi Farhida dan rekan-rekannya, membatik bukan hanya soal menghasilkan pendapatan tambahan. Aktivitas tersebut juga menjadi bentuk kecintaan terhadap budaya Indonesia.