Dari 500 Benih hingga Panen Ratusan Kilo, Nelayan Sawang Laut Bangun Harapan Baru Lewat Kakap Putih

    Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Biaya pakan yang tinggi, keterbatasan pengetahuan teknis, hingga cuaca ekstrem menjadi tantangan yang harus dihadapi para pembudidaya.

    Salah satu ujian terberat terjadi pada 2025 ketika suhu panas ekstrem memengaruhi kondisi tambak. Saat itu, kelompok juga belum memiliki peralatan memadai untuk memantau kualitas air secara optimal.

    “Kami sempat mengalami kendala besar karena cuaca panas dan keterbatasan alat. Tapi berkat pendampingan yang terus diberikan, kami tidak menyerah dan terus belajar memperbaiki sistem budidaya,” kata Amran.

    Kini, Pokdakan Tuah Bersatu mulai mengadopsi sistem bioflok sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan meminimalkan risiko budidaya. Metode tersebut dinilai mampu membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya sehingga tingkat keberhasilan pemeliharaan ikan menjadi lebih baik.

    Bagi para nelayan, keberadaan budidaya kakap putih bukan hanya soal tambahan pendapatan, tetapi juga tentang membuka peluang ekonomi baru yang lebih stabil di tengah ketidakpastian hasil tangkapan laut.

    Pages: 1 2 3
      Ikuti kami di Facebook