
Menurutnya, pengelolaan mineral tidak seharusnya berhenti pada proses penambangan. Sumber daya mineral perlu diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga mampu memperkuat industri dan kemampuan teknologi nasional.
“Babak baru yang kita bangun adalah hilirisasi yang terintegrasi. Pengembangan industri hilir juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam sekaligus membangun kemampuan teknologi dan industri nasional,” katanya.
Karena itu, ia menilai media memiliki ruang luas untuk menggali isu pertambangan dari berbagai perspektif.
Bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana mineral dikelola, sejauh mana hilirisasi berjalan, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat, serta kontribusinya terhadap pembangunan.
Dalam sosialisasi tersebut, Division Head CSR PT Timah Rahmat Taufik turut memaparkan perkembangan kinerja perusahaan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari sisi operasional maupun finansial.
Ia menyampaikan, kinerja PT Timah menunjukkan tren positif. Salah satunya tercermin dari capaian laba perusahaan pada semester I 2026 yang mencapai sekitar Rp2,71 triliun.
Rahmat juga menjelaskan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah yang menyasar masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya hingga pengembangan masyarakat.
“Jadi kita tidak hanya menambang, tetapi juga memberikan manfaat sekitar. Dalam program CSR kita berusaha menjangkau penerima manfaat lebih luas sehingga berdampak bagi perekonomian yang ada di Bangka Belitung,” ujarnya.
Sosialisasi tersebut mendapat respons positif dari peserta. Salah satu jurnalis, Riki, menilai kegiatan tersebut memberikan wawasan baru sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan karya jurnalistik terkait pertambangan.