
Yusril menilai kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk menyusun strategi yang lebih kuat, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Tak hanya soal harga, Yusril juga menyoroti dugaan penyelundupan timah dari Indonesia ke negara lain.
Ia menyebut terdapat negara tetangga yang menjadi eksportir timah dunia meskipun, menurut pernyataannya, tidak memiliki tambang timah. Yusril mempertanyakan asal pasokan komoditas yang diperdagangkan negara tersebut.
“Dari mana dia dapat timah? Ya, dari hasil selundupan yang ada di negara kita ini,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena penyelundupan, apabila terbukti terjadi, tidak hanya berpotensi merugikan penerimaan negara, tetapi juga melemahkan posisi Indonesia dalam rantai perdagangan timah internasional.
Meski demikian, negara yang dimaksud Yusril dalam pernyataan tersebut tidak disebutkan secara spesifik. Dugaan mengenai asal pasokan timah itu juga memerlukan pembuktian melalui data perdagangan, penelusuran rantai pasok, dan penegakan hukum.
Yusril menegaskan, penataan industri timah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Ia mendorong keterlibatan aparat penegak hukum, pemerintah daerah, PT Timah, dan masyarakat untuk membenahi tata kelola pertambangan.