Udara Kota Pangkalpinang Terbersih se-Indonesia

    Caption: Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang. (ariandaidris/IG)

    INTRIK.ID — Di tengah ancaman polusi dan kabut asap yang menghantui sejumlah wilayah, Kota Pangkalpinang justru mencatatkan angka kualitas udara yang terbilang istimewa. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu menyentuh angka 10, menempatkannya di posisi teratas dalam daftar daerah dengan udara terbersih di Indonesia pada waktu pengukuran.

    Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup yang dihimpun Katadata Insight Center, ISPU Pangkalpinang tercatat sebesar 10 pada Selasa, 20 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB.

    Angka tersebut menjadi yang terendah di antara daerah yang masuk dalam pemantauan saat itu. Pangkalpinang mengungguli Gorontalo dengan ISPU 20, Kabupaten Bogor 22, dan Cilacap 24.

    Temuan serupa juga tercatat pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 07.00 WIB. Saat itu, ISPU Pangkalpinang kembali berada di angka 10, disusul Gorontalo 19, Kabupaten Bogor 22, dan Malang 23.

    Dua catatan tersebut memperlihatkan bahwa Pangkalpinang berulang kali berada di posisi teratas dalam pemantauan kualitas udara pada waktu yang berbeda. Namun, angka itu tetap merupakan potret kondisi pada jam pengukuran, bukan jaminan bahwa Pangkalpinang selalu menjadi kota dengan udara terbersih sepanjang hari atau tahun.

    ISPU 10, Apa Artinya bagi Warga?

    Merujuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara, nilai ISPU 0–50 masuk kategori baik.

    Kategori ini menunjukkan kualitas udara yang secara umum dapat diterima untuk aktivitas masyarakat. Dengan skor 10, hasil pemantauan Pangkalpinang berada jauh di bawah batas atas kategori baik.

    Meski demikian, angka ISPU bukan berarti udara sama sekali bebas dari pencemar. Kondisi udara dapat berubah mengikuti aktivitas manusia, cuaca, sumber emisi, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    Karena itu, capaian tersebut layak menjadi kabar baik, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan.

    Sempat Diuji Asap Karhutla

    Kualitas udara Pangkalpinang juga menghadapi tantangan saat musim kemarau. Pada September 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang mengintensifkan pemantauan untuk mengantisipasi dampak asap karhutla.

    ANTARA News Bangka Belitung melaporkan, berdasarkan data Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien (SPKUA), ISPU Pangkalpinang berada di angka 39 pada periode pemantauan yang diberitakan 13 September 2026.

    Angka itu masih masuk kategori baik. Namun, nilainya lebih tinggi dibandingkan skor 10 yang tercatat pada 18 dan 20 Oktober 2026.

    Perbedaan tersebut menegaskan bahwa kualitas udara bersifat dinamis. Udara yang tergolong baik pada satu periode tetap perlu dipantau, terutama ketika risiko kebakaran dan kabut asap meningkat.

    Kepala DLH Kota Pangkalpinang, Fahrizal, mengatakan pemantauan melalui SPKUA dilakukan untuk mengetahui perubahan kualitas udara secara real-time dan memitigasi dampak asap karhutla.

    DLH juga mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan dan warga yang memiliki gangguan saluran pernapasan, agar berhati-hati ketika kondisi udara memburuk.

    Bukan Sekadar Angka di Papan Peringkat

    Pangkalpinang punya alasan untuk berbangga ketika hasil pemantauan menempatkannya di posisi teratas. Namun, mempertahankan kualitas udara yang baik merupakan pekerjaan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka rendah dalam satu kali pengukuran.

    Pencegahan karhutla, pengendalian emisi, perlindungan ruang terbuka hijau, serta kebiasaan tidak membakar sampah menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas lingkungan.

    Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa rendah ISPU pada pagi atau sore tertentu, melainkan seberapa konsisten udara tetap bersih ketika aktivitas kota meningkat dan musim kemarau datang.

    ISPU 10 menjadi kabar menggembirakan bagi Pangkalpinang. Tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas udara yang baik itu bukan sekadar prestasi sesaat, melainkan kondisi yang bisa terus dinikmati masyarakat.

      Ikuti kami di Facebook