
Ia juga tak menyalahkan masyarakat dan pabrik, namun menyayangkan para pemegang kebijakan tak bisa tegas dan memberikan kebijakan tentang harga sawit di Bangka Belitung sehingga terjadi harga tak merata seperti yang ada di Bangka Tengah.
“Sawit ini banyak sekolahkan anak kita, bangun infrastruktur, membangun ekonomi dan sosial tetapi kebijakannya tidak tegas dan tidak merata. Makannya kami meminta Pemerintah untuk atasi, awasi dan juga kaji ulang harga TBS sawit di Bangka Tengah ini, ” tukasnya.
Untuk diketahui, Dari data nasional, harga TBS mencapai Rp3.788 sampai Rp3.902 per kilogram yang mana harga nasional lebih mahal dari harga yang ada di Bangka Tengah hanya Rp2.870 per kilogram.
Bahkan, Ketua DPRD Bangka Tengah menyatakan jika penyelarasan dan penetapan harga oleh pabrik ataupun provinsi, tak pernah libatkan DPRD Kabupaten terutama DPRD Bangka Tengah karena kasus yang terjadi saat ini di Bangka Tengah menjadi harga TBS termurah.
“Penetapan harga oleh provinsi dan pabrik di Bangka Tengah tak pernah melibatkan kami. Kami hanya minta petani menanam sawit dan sawit ada yang beli di Bangka Tengah lewat pabrik-pabrik sawit ini. Namun siapa sangka harga yang ditawarkan tidak sesuai, ” jelasnya.
Pihaknya juga sudah banyak sekali membantu petani sawit lewat program bantuan bibit kecambah, pupuk dan lainnya agar petani sawit juga mendapatkan kesejahteraan.
“Petani sawit ini menjadi hajat hidup orang banyak. Kami juga banyak membantu. Tetapi selisih harga di Bangka Tengah dan nasional terlalu jauh. Seribu rupiah saja itu bisa membantu perekonomian sangat signifikan. Di Bangka Tengah Rp2.800 per kilo TBS, Nasional bisa Rp4.000 bahkan. Ini sudah jadi tanda tanya kenapa, ” tegasnya.