Singapura Butuh 38 Juta Meter Kubik Gas per Hari, Seberapa Penting Pasokan dari Indonesia?

    Caption: Kilang gas. (Ist)

    INTRIK.ID — Singapura membutuhkan gas alam dalam jumlah besar untuk menjaga pembangkit listrik dan industri tetap beroperasi. Di tengah ketergantungan tersebut, Indonesia menjadi salah satu pemasok gas bagi negara tetangganya itu.

    Data konsumsi gas Singapura pada 2024 yang dirujuk dari U.S. Energy Information Administration (EIA) mencapai sekitar 13,84 miliar meter kubik per tahun. Jika dirata-ratakan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 37,9 juta meter kubik per hari.

    Kebutuhan itu bukan angka kecil bagi negara kota yang mengandalkan gas alam untuk menghasilkan sebagian besar listriknya. Karena itu, perubahan pasokan dari negara pemasok, termasuk Indonesia, menjadi isu penting bagi ketahanan energi Singapura.

    Namun, seberapa besar sebenarnya peran Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gas tersebut?

    Ekspor Gas Indonesia Tembus US$1,66 Miliar

    Data perdagangan 2025 yang diberitakan Katadata menunjukkan ekspor gas alam Indonesia ke Singapura mencapai sekitar 3,22 juta ton, dengan nilai sekitar US$1,66 miliar.

    Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2024, ketika volume ekspor tercatat sekitar 3,74 juta ton dengan nilai mencapai US$2,22 miliar.

    Dengan demikian, volume ekspor turun sekitar 13,9 persen, sedangkan nilai ekspornya menyusut sekitar 25,2 persen dalam setahun.

    Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan gas Indonesia dan Singapura memiliki nilai ekonomi yang besar. Meski demikian, perubahan volume dan nilai ekspor tidak otomatis menunjukkan berapa persen kebutuhan gas Singapura yang dipenuhi Indonesia.

    Pasalnya, data perdagangan dalam satuan ton tidak bisa langsung dibandingkan dengan konsumsi gas dalam meter kubik tanpa mengetahui jenis gas, nilai kalor, serta cakupan statistik yang digunakan.

    Untuk menghitung pangsa pasokan Indonesia secara akurat, diperlukan data ekspor gas pipa dan LNG yang konsisten dalam periode serta satuan yang sama.

    Indonesia Alihkan Pasokan untuk Kebutuhan Domestik

    Isu pasokan gas kembali menjadi perhatian pada Oktober 2026 setelah muncul kebijakan pengalihan sebagian gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Dalam pengumuman awal yang diberitakan media, pasokan yang dialihkan mencapai 31 juta kaki kubik per hari. Rinciannya, 15 juta kaki kubik per hari berasal dari Natuna dan 16 juta kaki kubik per hari dari Sumatra.

    Langkah tersebut berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan energi domestik, termasuk untuk mendukung pasokan listrik dan kegiatan ekonomi di dalam negeri.

    Dari sudut pandang Indonesia, kebijakan ini memperlihatkan pentingnya menyeimbangkan kepentingan ekspor dengan kebutuhan energi nasional.

    Gas alam bukan hanya komoditas yang menghasilkan pendapatan dari luar negeri, tetapi juga sumber energi strategis bagi pembangkit listrik dan industri domestik.

    Meski demikian, dampak pengalihan pasokan terhadap Singapura harus dilihat berdasarkan volume yang benar-benar berkurang, durasi kebijakan, serta kontrak pasokan yang berlaku.

    Singapura Mengaku Masih Memiliki Pasokan Pengganti

    Pemerintah Singapura juga memberikan penjelasan mengenai dampak perubahan pasokan tersebut.

    Energy Market Authority (EMA) Singapura menyampaikan bahwa pengurangan pasokan yang diperhitungkan bagi Singapura mencapai 17 BBTUD selama 18 hari. Menurut otoritas tersebut, dampaknya kurang dari 2 persen terhadap kebutuhan gas harian sektor pembangkit listrik.

    Singapura menyatakan masih memiliki alternatif pasokan, termasuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

    Negara tersebut memang memperoleh gas melalui dua jalur utama, yakni pipa dari negara tetangga dan LNG yang dapat dibeli dari pasar internasional.

    Dalam komposisi impor gas pada 2025 yang dilaporkan sebelumnya, gas pipa menyumbang sekitar 43 persen, sedangkan LNG mencapai 57 persen.

    Keberadaan LNG memberikan fleksibilitas bagi Singapura untuk mengelola risiko gangguan pasokan dari jalur pipa. Karena itu, pengurangan pasokan dari Indonesia tidak serta-merta berarti Singapura akan mengalami krisis energi.

    Namun, tersedianya alternatif pasokan juga tidak berarti perubahan pasokan dari Indonesia kehilangan arti. Penggantian pasokan tetap berkaitan dengan harga pembelian, ketersediaan kargo LNG, dan kebutuhan energi pada saat yang bersamaan.

    Seberapa Penting Indonesia bagi Singapura?

    Data konsumsi sekitar 37,9 juta meter kubik per hari memperlihatkan besarnya kebutuhan gas Singapura. Sementara itu, nilai ekspor gas Indonesia ke negara tersebut yang mencapai sekitar US$1,66 miliar pada 2025 menunjukkan besarnya kepentingan ekonomi perdagangan kedua negara.

    Dua angka itu memberikan gambaran mengenai pentingnya hubungan perdagangan gas Indonesia dan Singapura, tetapi belum cukup untuk menyatakan secara pasti berapa persen kebutuhan Singapura yang bergantung pada Indonesia.

    Penghitungan tersebut membutuhkan data pasokan Indonesia dalam satuan energi yang sebanding dengan total konsumsi Singapura pada tahun yang sama.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara pengumuman awal pengalihan gas sebesar 31 juta kaki kubik per hari dan angka 17 BBTUD yang disampaikan otoritas Singapura. Kedua angka tersebut berasal dari pelaporan dengan satuan berbeda dan tidak boleh langsung dianggap setara tanpa penjelasan teknis mengenai volume serta nilai kalor gas.

    Di tengah kebutuhan energi yang terus berjalan, Indonesia menghadapi pilihan strategis: menjaga kepentingan perdagangan ekspor sekaligus memastikan kebutuhan domestik tidak terabaikan.

    Bagi Singapura, perubahan pasokan gas dari Indonesia menjadi salah satu faktor yang harus dikelola dalam menjaga keamanan energi. Namun, sejauh mana dampaknya terhadap biaya dan keandalan pasokan akan bergantung pada kemampuan negara tersebut mendapatkan sumber pengganti.

    Pada akhirnya, hubungan gas Indonesia dan Singapura bukan sekadar persoalan jual beli komoditas. Di dalamnya terdapat kepentingan pendapatan ekspor, kebutuhan energi nasional, kontrak perdagangan, serta ketahanan energi kawasan.

      Ikuti kami di Facebook