
Pada mulanya, mandala yang dipimpin oleh tokoh pelarian India ini berstatus sebagai bawahan resmi dari Kerajaan Salakanegara. Kondisi ini berlanjut setelah Maharesi Sentanu menikahi Permaisuri Indari yang merupakan seorang putri istana dari penguasa Salakanegara.
Sang mertua merupakan pemimpin ternama dengan gelar kehormatan Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bertakhta di sana. Akan tetapi, status bawahan mandala ini berubah total saat putranya bernama Jayasatyanagara mulai menduduki tampuk kekuasaan tertinggi.
Kemudian, mulai masa suksesi kepemimpinan Jayasatyanagara inilah wilayah tersebut berubah secara politis menjadi bagian dari taklukan kekuasaan Tarumanegara. Ikatan politik berjenjang ini sukses mengantarkan mereka mencapai titik perkembangan pesat di seluruh batas wilayah selatan Cirebon.
Baca juga: Jembatan Cincin Jatinangor, Jejak Sejarah Kolonial yang Masih Bertahan di Sumedang
Bahkan, corak kerajaan Hindu-Buddha kuno ini mampu bertahan melintasi berbagai gejolak besar selama kurun waktu empat abad. Data kuno mencatat dengan jelas kehadiran empat belas orang penguasa yang pernah mengatur pemerintahan wilayah secara bergiliran. Para pemimpin tersebut sempat mengenyam indahnya masa keemasan panjang sebelum perlahan terbawa arus konflik berdarah secara tragis.