
Pada Maret 2025, Emil Audero, Joey Mathijs Pelupessy, dan Dean Ruben James juga resmi menjadi WNI setelah menjalani sumpah pewarganegaraan di Roma, Italia.
PSSI saat itu menyatakan bahwa kehadiran ketiganya diharapkan menambah pilihan pemain dan variasi formasi bagi tim pelatih. Mereka juga diharapkan memperkuat kedalaman skuad dalam menghadapi pertandingan internasional.
Pola ini menunjukkan bahwa pencarian pemain diaspora telah menjadi salah satu instrumen PSSI untuk meningkatkan kualitas Timnas senior. Akan tetapi, perekrutan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tim dan regulasi yang berlaku.
Memasuki 2026, pemain diaspora tetap menjadi bagian dari pembahasan mengenai komposisi Timnas Indonesia. Pengalaman yang mereka bawa dari kompetisi luar negeri memberikan alternatif bagi pelatih dalam menyusun tim.
Namun, belum ada satu angka resmi yang dapat langsung digunakan sebagai jumlah seluruh pemain naturalisasi yang pernah membela Timnas senior sejak 1950 hingga Oktober 2026. Untuk memperoleh angka tersebut, setiap pemain harus diverifikasi berdasarkan status kewarganegaraan, jalur memperoleh kewarganegaraan, dan catatan penampilan di tim nasional senior.
Angka pemain yang menjadi WNI juga tidak otomatis sama dengan jumlah pemain yang pernah tampil membela Timnas senior. Sebagian pemain naturalisasi memperkuat klub Indonesia atau kelompok umur tanpa mencatat penampilan bersama tim senior.
Karena itu, menyebut angka total tanpa pemeriksaan satu per satu justru berisiko menghasilkan data yang keliru.
Naturalisasi dapat mempercepat penambahan pilihan pemain berkualitas, tetapi bukan satu-satunya jawaban bagi persoalan sepak bola Indonesia.
PSSI tetap membutuhkan pembinaan usia muda, kompetisi domestik yang sehat, peningkatan kualitas pelatih, serta jalur pengembangan pemain yang jelas. Tanpa fondasi tersebut, regenerasi tim nasional dapat menghadapi masalah ketika para pemain senior mulai menurun atau tidak lagi tersedia.
Pemain diaspora dan pemain binaan dalam negeri juga tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya dapat memperkuat tim yang sama, selama pemilihan pemain didasarkan pada kualitas, kebutuhan taktik, dan kontribusi terhadap Garuda.
Perjalanan sejak era Arnold van der Vin hingga generasi diaspora saat ini menunjukkan bahwa kebijakan naturalisasi terus berubah mengikuti kebutuhan zaman.
Kini, tantangannya bukan hanya mendatangkan pemain yang memiliki garis keturunan Indonesia. PSSI juga harus memastikan bahwa strategi tersebut berjalan seiring dengan pembangunan fondasi sepak bola nasional.
Sebab, keberhasilan naturalisasi pada akhirnya tidak diukur dari banyaknya paspor yang berganti, melainkan dari prestasi yang konsisten dan kemampuan Indonesia melahirkan generasi pemain berkualitas secara berkelanjutan.